bahasa indonesia

News

Kenalan dengan Penulis Hebat

Siapa yang tidak mengenal sosok J.K. Rowling, Asma Nadia, Dee Lestari, dan Stephen King? Pasti kita mengenal salah satu di antara mereka. Karyanya yang begitu fenomenal ini membuat namanya melambung dan dikenal di seluruh penjuru negeri. Kita bahkan menganggap mereka sebagai penulis yang hebat karena karya-karyanya yang sangat apik. Tetapi, tahukah kalian bahwa penulis-penulis hebat ini pernah mengalami kegagalan juga dalam bidang kepenulisan? Menjadi seorang penulis itu bukanlah hal yang mudah. Jangankan menjadi penulis, untuk membuat sebuah tulisan bagi seseorang yang tidak pernah membuat sudah pasti akan kesulitan. Tak jarang bahkan ada yang mengalami kegagalan dalam dunia kepenulisan. Hal ini juga dialami oleh beberapa penulis yang namanya sudah terkenal di berbagai dunia. Mereka pernah mengalami kegagalan pada saat mengirimkan karyanya ke penerbit. Meskipun karya yang mereka buat ini terbilang sangat bagus, akan tetapi karya yang bagus itu belum tentu menjamin akan dilirik oleh penerbit seperti yang dialami oleh J.K. Rowling, Stephen King, Dee lestari, dan Asma Nadia. J.K. Rowling Kisah Harry Potter yang meraup kekayaan dengan total mencapai $ 850 juta ini ternyata pernah ditolak oleh penerbit loh. Bukan hanya satu atau dua kali, karya J.K. Rowling pernah ditolak oleh penerbit hingga sebanyak 12 kali. Tetapi beliau tidak patah semangat sampai akhirnya ada salah satu penerbit yang tertarik dengan karyanya. Saat ini, karya J.K. Rowling ini telah diterjemahkan ke dalam 72 bahasa dan dari karyanya inilah membuat dirinya lebih kaya dari Ratu Elizabeth II. Stephen King Kegagalan juga dialami oleh Stephen King. Dulu, beliau tidak mampu untuk membeli sebuah mesin tik. Beliau meminjam mesin tik milik istrinya. Setelah itu King, panggilan akrabnya, memulai menjadi penulis serabutan yang mulai menulis berbagai cerita pendek. Beliau mengirimkan karyanya ke beberapa majalah pria. Dari hasil menulisnya inilah beliau menghidupi keluarganya. Tetapi, siapa yang sangka kalau King sekarang telah berhasil. King telah menerbitkan lebih dari 50 novel bestseller yang telah terjual hingga ratusan eksemplar bahkan karyanya juga telah diadaptasikan dalam sebuah film yang berjudul IT dan The Dark Tower. Dee Lestari Perahu Kertas, Rectoverso, dan Supernova. Kalau mendengar ketiga kata tersebut, apa yang ada di benak kita? Judul buku? Judul film? Ya, benar. Ketiga kata tersebut merupakan judul buku yang ditulis oleh Dewi Lestari atau yang biasa kita kenal dengan nama Dee Lestari. Penulis cantik ini ternyata juga pernah mengalami penolakan loh. Karya yang dihasilkan oleh Dee Lestari pernah ditolak beberapa kali oleh media cetak sampai akhirnya beliau ‘putus asa’ dan memutuskan untuk menulis bagi orang-orang sekitarnya saja. Meskipun beliau pernah ditolak oleh beberapa media cetak, nyatanya sekarang Dee berhasil menerbitkan lebih dari 10 buku salah satunya Rectoverso. Karya yang berjudul Rectoverso ini merupakan karya hibrida sastra-musik pertama di Indonesia. Beliau menggabungkan pengalaman musik, ilustrasi, dan sastra di dalam satu buku. Wah, hebat sekali ya! Asma Nadia Penggagas Forum Lingkar Pena (FLP) ternyata juga pernah ditolak oleh majalah. Sepanjang perjalanannya dalam menulis, beliau mengalami berbagai cobaan. Ditolak oleh penerbit hingga terkena lima jenis penyakit pun beliau hadapi. Beliau tidak patah semangat. Beliau tetap membaca dan terus menulis hingga memiliki lebih dari 30 novel dan beberapa lirik lagu yang cukup membuat kita baper. Surga yang Tak Dirindukan dan Jilbab Traveler adalah dua dari sekian banyaknya karya yang dihasilkan oleh Asma Nadia. Nah dari beberapa kisah penulis hebat di atas, kita bisa lihat bahwa sekelas penulis hebat pun pernah mengalami kegagalan apalagi kita sebagai penulis pemula. Kegagalan adalah hal yang lumrah. Kita tetap harus menjalani hidup ketika dihadapkan oleh kegagalan. Tapi, kita juga tidak boleh berlarut-larut dalam kegagalan. Kita harus bangkit dan terus menerus mencoba sampai meraih keberhasilan dan kesuksesan.  

News

Menjadi Kaya Raya Hanya dengan Menulis? Nggak Percaya?

Banyak orang yang menganggap bahwa penghasilan seorang penulis tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka selalu memandang sepele mengenai profesi penulis. Padahal, menjadi seorang penulis itu dapat membuat kita kaya raya loh. Nggak percaya? Zaman dulu, ketika kita memiliki sebuah karya baik fiksi maupun nonfiksi ya hanya kita simpan saja di lemari sampai kertas tersebut berdebu dan berubah warna. Tetapi, zaman sekarang sudah berbeda dengan dulu. Sekarang sudah banyak platform digital yang menerima karya kita untuk dipublikasikan. Bagi penulis pemula seperti kita, platform digital ini sangat membantu untuk menerbitkan sebuah karya terutama bagi kita yang masih malu-malu dan ragu untuk menerbitkan karya ke penerbit. Dari sekian banyaknya platform digital, ada beberapa platform digital untuk kepenulisan yang dapat membuat kita kaya raya. Yuk kita simak, ada apa saja sih “brankas” yang bisa digunakan untuk seorang penulis? Seperti yang kita ketahui bersama, menerbitkan sebuah buku dan mencetaknya dalam jumlah yang fantastis memang akan membuat kita kaya raya. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membuat sebuah buku apalagi buku tersebut memiliki ratusan lembar. Untuk menulis satu paragraf saja rasanya sudah berat apalagi menuliskan beratus-ratus bahkan beribu-ribu paragraf. Pasti puyeng, kan? Nah, berikut beberapa platform digital yang bisa kita gunakan untuk mengirimkan karya kita. JalanTikus Bagi kita yang menggemari dunia teknologi, JalanTikus adalah jawabannya. Kita bisa menjadi kontributor di JalanTikus. JalanTikus itu apa sih? JalanTikus adalah laman teknologi berbahasa Indonesia yang menyajikan informasi mengenai gadget, game, film, dan segala jenis informasi teknologi lainnya. Tahukah kalian kalau JalanTikus ini bisa membuat seorang penulis kaya raya? Di JalanTikus ini tulisan yang dipublikasikan akan mendapat bayaran sebesar Rp 50 ribu loh. Bisa dibayangkan kalau dalam satu bulan kita rutin mengirimkan artikel dan terpilih untuk dipublikasi oleh pihak JalanTikus, sudah setebal apa dompet kita? Eits, selain mendapatkan uang kita juga akan tenar sebab nama kita akan dipajang dalam setiap tulisan yang kita buat. Basabasi.co Situs ini dapat dikatakan lebih worth it untuk dipilih sebagai salah satu platform digital kepenulisan yang membuat rekening bank menggendut. Di situs ini, kita akan lebih terpacu untuk membuat konten yang berkualitas. Basabasi.co tidak asal menerima karya yang dikirimkan oleh penulis. Mereka hanya menerima karya berupa cerpen, puisi, esai, resensi buku, dan artikel populer. Meskipun tidak semua karya dari penulis akan diterima di situs ini, tetapi Basabasi berani membayar besar untuk setiap naskah yang lolos seleksi. Bayangkan saja, untuk satu kali naskah yang lolos seleksi bayarannya mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Bagaimana kalau naskah yang kita kirimkan ini bisa merajai situs selama satu bulan? Sudah segendut apa rekening bank kita? Wah, sungguh sangat menggiurkan ya? Wattpad Situs atau aplikasi yang terakhir adalah Wattpad. Tentu kita sudah sering mendengarnya, terutama bagi remaja yang senang menulis dan membaca buku elektronik dengan gaya bahasa yang ringan serta kisahnya yang menye-menye. WattPad dapat dijadikan sebagai wadah untuk mendapatkan penghasilan dari menulis. Memang, penghasilan yang didapatkan dari WattPad ini tidak langsung terlihat. Kita harus terus menerus membuat tulisan yang menarik agar dapat dilirik oleh penerbit. Eh nggak cuman penerbit saja yang akan meliriknya, bisa-bisa kalau kita membuat tulisan yang menarik akan ada storywriter atau penulis cerita yang akan tertarik untuk menjadikannya sebuah film. Menarik bukan kalau naskah kita dapat dijadikan sebuah film? Itu adalah beberapa platform digital yang dapat digunakan oleh seorang penulis pemula. Beberapa platform digital tersebut dapat kita gunakan untuk meraup keuntungan hingga jutaan rupiah setiap bulannya. Dengan begitu, kita dapat membuktikan ke orang lain kalau menjadi seorang penulis juga dapat memenuhi kebutuhan hidup. Profesi penulis bukan profesi yang sembarangan. Profesi ini bisa menjadi ladang uang kalau memang kita menekuninya.

News

Punya Kebiasaan Aneh Saat Menulis? Wajar Nggak Sih?

Ketika sedang menulis sebuah karya, tanpa disadari kita sering memiliki kebiasaan yang mungkin bagi orang lain terkesan aneh bahkan cringe. Kebiasaan ini sering dianggap aneh karena tidak semua orang melakukannya. Bahkan bisa jadi kebiasaan itu hanya kita saja yang melakukannya. Nah, kalau sudah seperti ini sering timbul pertanyaan “Wajar nggak sih aku punya kebiasaan aneh setiap kali menulis?”. Jawabannya adalah wajar. Kok bisa? Iya, sebab setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya termasuk menulis. Kita tidak perlu sedih karena diri kita dianggap “aneh” karena kebiasaan yang kita miliki. Banyak penulis bahkan penulis yang namanya sudah melambung juga memiliki kebiasaan yang aneh kok. Siapa saja sih mereka dan apa kebiasaan aneh yang mereka lakukan? Friedrich Schiller Johann Christoph Friedrich von Schiller, penyair dan penulis naskah drama asal Jerman yang lahir pada 10 November 1759 ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di malam hari. Jika harus bekerja di pagi atau siang hari, beliau selalu menutup ruangannya dengan tirai berwarna merah untuk menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menerangi ruang kerjanya. Ketika beliau merasa bosan maka beliau akan membenamkan kakinya ke dalam air dingin agar dirinya tetap terjaga. Selain kebiasaan tersebut, Schiller memiliki kebiasaan aneh lainnya dan cukup mencengangkan. Beliau senang menyimpan apel busuk di dalam lacinya. Menurut istrinya, beliau tidak akan bisa bekerja jika tidak mencium aroma busuk. Wah, aneh juga ya? Kebanyakan orang akan terganggu jika mencium aroma busuk, tapi beliau justru terlihat begitu mencintainya. Agatha Christie Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau kita lebih mengenalnya dengan Agatha Christie ini memiliki kebiasaan aneh juga dalam menulis. Penulis fiksi kriminal asal Inggris ini sempat memiliki permintaan khusus untuk kamar mandinya. Kok kamar mandi sih? Iya. Baginya, bak mandi adalah ruang kerja utamanya. Beliau bisa menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun plot yang rumit sembari berendam di air hangat dan menikmati apel. Keren ya? Mungkin kalau kita berendam di air hangat hingga terasa rileks seluruh tubuh akan tertidur hihihi. Collete Sidonie-Gabrielle Collete yang dilahirkan pada tahun 1873 ini memiliki kebiasaan aneh saat menulis yang membuat suaminya geleng-geleng kepala. Pasalnya, novelis “gila” asal Prancis ini memiliki ritual khusus. Beliau harus menemukan kutu di anjing peliharaannya sebelum memulai untuk menulis. Edgar Allan Poe Kalau Collete memiliki kebiasaan aneh dengan anjingnya, berbeda dengan Edgar Allan Poe atau yang lebih dikenal dengan nama Poe. Penulis, penyair, editor, sekaligus kritikus sastra asal negeri Paman Sam ini memiliki kebiasaan aneh dengan kucingnya yang diberi nama Catterina. Saat menulis, Poe selalu ditemani oleh Catterina yang setia “bertengger” di pundaknya. Baginya, dengan ada Catterina di sisinya maka beliau akan selalu merasa diawasi. Lucu juga ya hehe. Victor Hugo Penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan terkenal sebagai salah satu penyair terbesar di Prancis ternyata juga memiliki kebiasaan aneh saat menulis. Penulis “Les Miserables” ini selalu mengurung dirinya di dalam rumah agar tetap produktif. Tidak hanya itu saja, beliau bahkan rela menyimpan seluruh pakaiannya rapat-rapat dalam lemari agar dirinya dapat berpikir bahwa tidak akan keluar rumah jika tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dikenakan. Kebiasaan ini bisa kita tiru, loh karena keluar rumah hanya untuk bersenang-senang dapat membuang-buang waktu dan membuat karya kita tidak akan cepat selesai.

News

Mengenal Victor Hugo Lebih Dalam

Siapa yang tidak mengetahui novel “Les Miserables” dan “Notre-Dame de Paris”? Kita pasti pernah mendengar judul tersebut tapi tidak mengetahui siapa penulisnya. Ya, penulis novel “Les Miserables” ini merupakan seorang penulis aliran romantisme pada abad ke-19 yang berasal dari Prancis. Beliau adalah Victor-Marie Hugo atau lebih dikenal dengan Victor Hugo. Kelahiran Victor Hugo Hugo dilahirkan pada 26 Februari 1802 dari seorang jenderal pasukan Napoleon, Joseph Leopold Sigisbert Hugo dan seorang ibu yang bernama Sophie Trebuchet. Sejak kecil, Hugo sudah sering berpindah-pindah tempat tinggal karena ayahnya yang seorang perwira tentara Napoleon. Karena rasa bosan yang dialami oleh ibunya, akhirnya Sophie memilih untuk berpisah sementara dari Leopold dan menetap di Prancis bersama anak-anaknya. Karier Victor Hugo Ketika Hugo beranjak dewasa, beliau mulai menekuni bidang menulis. Pada tahun 1816, Hugo mulai menulis meski hanya di dalam buku harian. Selang satu tahun, beliau mulai menulis puisi untuk diikutsertakan dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh l’ Academie Francaise. Pada waktu itu, beliau meraih penghargaan yang terhormat meski masih berusia 15 tahun. Karena prestasinya di bidang menulis inilah yang membuat beliau semakin menekuni dunia menulis. Pada tahun 1823, Hugo akhirnya menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Han d’Islande tepat setelah satu tahun menikah. Selang tiga tahun, beliau menerbitkan novel keduanya yang berjudul Bug-Jargal. Selama tiga tahun proses kepenulisan novel keduanya, beliau berhasil menerbitkan lima jilid puisi yakni Les Orientales, Les Feuilles d’aitomne, Les Chants du crepuscule, Les Voix interieures, dan Les Rayons et les Ombres. Karena hal inilah beliau dikenal sebagai salah satu penulis yang sangat produktif. Beberapa karyanya tidak cukup sampai di situ saja. Pada tahun 1829, Hugo berhasil menerbitkan karya fiksi matang untuk pertama kalinya. Pada tahun 1827, Hugo juga pernah menjadi tokoh gerakan sastra romantis dalam lakon Cromwell. Kemudian di tahun 1830, beliau kembali terjun dalam dunia drama pada lakon Hernani. Sejak itu Hugo mulai menulis lakon drama. Popularitasnya sebagai penulis naskah membuatnya berhasil untuk membuat beberapa lakon seperti Marion Delorme pada tahun 1831, The King Amuses Himself pada tahun 1832, dan Ruy Blas pada tahun 1838. Tidak hanya menulis naskah drama saja, beliau juga menulis beberapa novel. Pada tahun 1831, Hugo berhasil menerbitkan novel yang berjudul “Notre-Dame de Paris”. Tak disangka, novel ini cepat diterjemahkan dalam bahasa lain di seluruh Eropa. Ternyata, beliau menulis novel ini tidak hanya sekadar menulis. Beliau ingin mempermalukan kota Paris agar memulihkan Katedral Notre Dame yang selalu diabaikan. Kemudian pada tahun 1862, Hugo berhasil menerbitkan novel dengan judul “Les Miserables”. Beliau membutuhkan waktu 17 tahun untuk menyelesaikan novel besar tentang kesengsaraan dan ketidakadilan sosial ini. Beliau terus menerus menelorkan beberapa karya hingga ajal menjemputnya. Inilah yang membuat namanya masih terus terdengar di telinga kita terutama para penulis yang mengidolakan dirinya. Semoga ada Hugo-Hugo berikutnya yang dapat meneladani sikap produktifnya dan mampu untuk berkecimpung di dunia kepenulisan serta dunia sastra hingga akhir hayat.

News

Menulis Puluhan Ribu Kata Hanya dalam Waktu Sekejap? Mana Mungkin!

Menulis memang terkenal dengan hal yang sulit terutama bagi penulis pemula. Jangankan untuk menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata seperti pada judul, menulis puluhan kata saja terasa sangat sulit. Menulis sering kali dianalogikan sebagai mencari tumpukan jarum di dalam jerami. Wah, sesulit itu ya? Tetapi, tahukah kalian bahwa kita bisa kok menulis puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap? Ya, kita bisa melakukannya hanya dalam hitungan 1 bulan saja. Nggak percaya? Memangnya bisa? Bisa banget! Nih, simak beberapa tips berikut agar kita dapat menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap. Bagilah sesi menulis menjadi beberapa waktu Hal ini penting untuk kita lakukan agar lebih fokus dalam mengerjakan naskah. Jika kita ingin menulis 20.000 kata berarti kita harus membagi sesi menulis kita menjadi 3-4 waktu agar tidak “pusing” saat menulis. Dalam satu waktu, kita bisa menghabiskannya dengan menulis sebanyak 5.000 kata. Memang, 5.000 kata tidak sedikit untuk kita tuliskan. Akan tetapi, dengan membagi sesi menulis maka akan memudahkan kita untuk menyelesaikan 5.000 kata tersebut. Merencanakan sesi menulis Setelah membagi sesi menulis ke dalam beberapa waktu, kita harus mengetahui dan merencanakan kapan akan mengeksekusi tulisannya. Kita tidak harus selalu dan selalu menulis hingga melupakan kehidupan serta aktivitas kita sehari-hari. Hal yang terpenting adalah kita harus menyempatkan menulis di sesi yang telah ditentukan sembari menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Tidak perlu menulis sesuai urutannya Bagi sebagian penulis, menulis tidak sesuai urutannya akan membuatnya bingung. Ada banyak penulis yang tidak senang jika dirinya harus menulis secara “lompat-lompat”. Baginya, menulis “lompat-lompat” akan memunculkan penyakit writer’s block dan berakibat pada tidak nyambungnya tulisan kita dengan bagian sebelumnya. Akan tetapi, sebagian penulis menganggap bahwa menulis tidak sesuai urutannya akan membuat dirinya lebih produkif. Bagi mereka, tulislah apa yang ingin kita tulis. Jangan berpaku pada urutan bagian yang sudah direncanakan. Nah, kalau kalian tim yang mana nih? Tim yang menulis harus urut sesuai bagiannya atau tim yang menulis “lompat-lompat”? Tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan disela dengan kegiatan lain Kebanyakan penulis pemula ketika menulis pasti disambi dengan kegiatan lainnya. Tak jarang, kita sebagai penulis pemula ini selalu menulis sambil menyunting/mengedit. Ini adalah kebiasaan buruk yang membuat naskah tidak cepat selesai. Kita harus terus menulis. Tuangkan semua ide-ide cemerlang yang ada dalam pikiran kita. Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk menulis sambil menyunting naskah yang sedang kita tuliskan. Hal ini biasanya akan memunculkan writer’s block dan kita akan mudah terdistraksi oleh naskah kita yang masih “berantakan”. Memang, naskah yang pertama kali kita tuliskan tidak sempurna. Semua penulis pun ketika menuliskan naskah untuk pertama kali pasti tidak akan mencapai kata sempurna. Tetapi jangan khawatir. Kita bisa menyuntingnya ketika semua isi yang akan kita tulis di dalam naskah tersebut terselesaikan.

News

Kenalan dengan Penulis Hebat

Siapa penulis wanita favorit kalian? Pasti ada bukan? Kali ini kita akan berkenalan dengan wanita-wanita hebat yang mendobrak dunia sastra dengan karya-karyanya. Karya-karyanya memiliki ciri khas tersendiri dan dengan gamblang dituliskan. Karya-karya mereka biasanya juga dijadikan rujukan untuk sebuah tugas mata kuliah. Karena melalui karya mereka, ada banyak pengetahuan yang diketahui oleh mahasiswa, terutama mahasiswa yang tertarik dengan masa-masa sejarah 1965 dan perihal feminisme. Wanita-wanita ini di dalam karyanya membahas hal yang saat itu masih sensitif didengar oleh banyak orang. Contohnya seperti sejarah kelam G30SPKI dan kata-kata tabu perihal wanita. Siapakah mereka? Yuk kenalan! Ayu Utami Ayu Utami yang memiliki nama lengkap Justina Ayu Utami merupakan wanita yang lahir pada 21 November 1968 di kota Bogor, Jawa Barat. Ayu Utami dikenal oleh banyak orang karena novel fenomenalnya yang berjudul “Saman”. Di dalam novel tersebut, Ayu Utami dengan beraninya membicarakan masalah seks yang mana hal tersebut kala itu masih terlihat tabu untuk dibahas. Di dalam novelnya, Ayu Utami seakan mendorong para perempuan untuk lebih memahami hak-hak yang dimiliki dan kebebasannya. Ayu Utami menurut beberapa sastrawan telah membuat hal baru di dunia sastra. Melalui karyanya yang berani itu lahirlah sebuah genre baru dalam dunia sastra yaitu sastra wangi. Laksmi Pamuntjak Wanita kelahiran Jakarta, 22 Desember 1971 ini dikenal dengan karyanya yang berjudul “Amba”. Novel Amba ditulis dengan latar belakang masa kelam di tahun 1965. Laksmi Pamuntjak dengan berani menceritakan beberapa peritiwa yang kala itu terjadi di kota-kota besar mengenai G20SPKI. Novel ini juga menggambarkan pergulatan batin seorang wanita dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Melalui karyanya, Laksmi Pamuntjak telah memperkenalkan kota-kota yang ada di Indonesia kepada dunia. Karena karya-karya Laksmi Pamuntjak juga laris di pasaran internasional. Leila S Chudori Leila Salikha Chudori atau yang lebih dikenal dengan nama Leila S Chudori merupakan sosok penulis wanita yang lahir di Jakarta, 12 Desember 1962. Leila S Chudori juga merupakan sosok penulis wanita yang dengan berani menuliskan hal-hal yang tabu bagi masyarakat. Penulis yang sudah mengeluarkan karyanya dari usia 12 tahun ini, lebih dikenal lagi melalui karyanya novel “Pulang” dan “Laut Bercerita”. Leila S Chudori dianggap mampu menyajikan sebuah cerita dari rangkaian sejarah. Di dalam kedua novel tersebut melatarbelakangi peristiwa kelam di tahun 1965. Tulisannya yang disisipi kepuitisan itu mampu membuat pembaca memahami dampak yang tidak terungkap di tahun 1965.

News

Yuk Mengenal Macam-Macam Biografi

“Taukah Anda Biografi juga ada macamnya lo” Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan beberapa karya tulis legendaris seperti “Kamus Pramoedya Ananta Toer” sebuah rekam hidup dari Pramoedya Ananta Toer, “Kuasa Ramalan” riwayat hidup dari Pangeran Dipoenegoro atau “Nelson Mandela” kisah narasi-narasi hidup dari seorang Nelson Mandela . Ketiga buku itu merupakan sebuah mahakarya atas dedikasi atau sepak terjang seseorang yang berada di baliknya. Seseorang itu boleh saja telah tiada, tetapi dengan karya tulis tersebut ia akan terus terkenang sepanjang masa. Setiap manusia pasti memiliki cerita perjalanan hidup yang layak diabadikan. Karena sepandai dan setinggi apapun kedudukan seseorang, selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan keberadaanya akan terhapuskan oleh sejarah. Singkatnya menulis adalah bekerja untuk keabadian. Kegiatan merekam segala peristiwa dan kejadian yang kita alami dalam hidup kita melalui tulisan seperti itu bisa juga disebut dengan biografi. Biografi saat ini pun sangat beragam dan tidak terikat pada penulisan cerita hidup orang atau tokoh terkenal yang sangat berpengaruh, karena kini semua orang berhak menuliskan kisah hidupnya. Jika kita lihat, saat ini telah banyak buku biografi yang memuat tentang cerita hidup seseorang yang bukan merupakan tokoh terkenal atau sosok yang sangat berpengaruh. Tetapi lebih  berfokus pada pengenalan karakter maupun personal branding mengingat saat ini banyak orang yang membutuhkan hal tersebut. Dengan semakin beragamnya bentuk penulisan biografi dewasa ini, kita mungkin sedikit kebingungan menentukan mana biografi yang cocok untuk dijadikan referensi atau rujukan dan mana biografi yang cocok untuk dijadikan sebuah motivasi. Biasanya biografi yang banyak dijadikan referensi adalah biografi ilmiah, sedangkan biografi yang kerap kali dijadikan sebuah motivasi adalah biografi populer. Untuk mencegah kebingungan, kita bisa mengidentifikasi kedua jenis penulisan biografi tersebut melalui beberapa point berikut: Mengenali Objek Atau Tokoh Biografi dengan sudut pandang ilmiah biasanya menceritakan tokoh-tokoh terkenal yang sangat berpengaruh misalnya tokoh pahlawan nasional, tokoh pemimpin, tokoh sejarah dll. Sementara penulisan biografi populer lebih ke tokoh yang tidak terlalu mencolok namun sangat inspiratif, sebut saja Merry Riana dll. Gaya Bahasa Penulisan biografi ilmiah selalu menggunakan kata-kata baku dan tidak jarang bahasanya terkesan kaku. Selain itu kerap kali juga menggunakan diksi yang asing  atau bahasa-bahasa yang jarang kita dengar di kehidupan sehari-hari. Sementara biografi populer biasanya lebih disampaikan dengan bahasa yang santai dan persuasif serta menggunakan diksi yang mudah dicerna. Konten Karena biografi ilmiah kebanyakan menceritakan tentang tokoh-tokoh berpengaruh, maka konten di dalamnya tak jauh dari aktivisme, peran politik hingga ke pemikiran tokoh tersebut. Sedangkan biografi populer lebih banyak bercerita tentang kisah-kisah inspiratif seorang tokoh yang syarat akan motivasi. Sasaran Atau Target Buku Biografi ilmiah lebih menyasar ke kalangan akademisi karena untuk kebutuhan referensi, sedangkan biografi populer sangat cocok untuk semua kalangan dengan gaya bahasa yang ringan dan sangat komunikatif.

News

4  Hal Yang Dapat Kita Pelajari Dari Penulis Cantik Satu Ini  

“saya percaya bahwa karya sastra itu seharusmya dapat menyuarakan persoalan-persoalan dalam masyarakat” Tutur seorang perempuan pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa yang dikenal sebagai Okky Madasari. Bagi penikmat sastra sudah pasti tak asing dengan nama Okky Madasari ini, pasalnya karya-karyanya selalu berbicara lantang mengenai isu-isu sosial di masyarakat. Di tengah banyaknya sastrawan yang menggandrungi karya-karya populer penuh romantisme, Okky memilih menampilkan kritik-kritik pedas terhadap isu sosial yang beredar di masyarakat. Sebut saja, korupsi, femenisme, abuse of power, dan masih banyak lagi. Sudah 9 buku telah terbit buah dari kreativitas dan sudut pandangnya terhadap permasalahan di masyarakat. Di antaranya berbicara tentang kritik atas ketidakadlian sosial yang dikemas rapi melalui rankaian kata. “Entrok” contohnya, Okky menggambarkan sosok wanita feminis dan dominan dalam tokoh Marni, di tengah era patriarkat Orde Baru yang sering membuat posisi wanita dianggap salah dan para pria selalu kuat dan benar. Ia berhasil mendobrak struktur sosial tentang bagaimana wanita biasanya digambarkan di era tersebut: lemah dan dependen. Inspirasi dan kreativitas yang selalu melekat pada karya-karya Okky Madasari tentunya tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan unsur lain untuk bisa terus berproses dalam menciptakan karya-karya terbaiknya. Setidaknya ada empat hal yang mungkin dapat kita pelajari dari sosok Okky Madasari di dunia tulis menulis ini. Tujuannya adalah untuk memotivasi generasi muda untuk bisa memberi perspektif baru bagi pembaca sehingga kita bisa mengubah kondisi yang ada. Empat hal tersebut di antaranya: Kritis Bicara tentang Okky Madasari rasanya kurang jika tidak menyematkan kata-kata kritis. Sudut pandangnya terhadap fenomena sosial  yang kritis membuat ia mendapatkan jutaan insight baru. Bagi Okky, sastra tak ubahnya seperti senjata melawan ketidakadilan. Bedanya, ‘senjata’ yang satu ini begitu cantik dan disampaikan secara halus, tapi menohok. Pun tak ada ketakutan dalam dirinya kala menyampaikan kritik tentang ragam isu dengan cara gamblang, tapi penuh estetika. Fokus Okky dikenal bukan hanya sebagi seorang penulis saja, ia juga dikenal sebagai wartawan dan seorang pelajar. Bahkan ia sedang menempuh pasca sarjana di UGM saat menyelesaikan novel-novelnya tersebut. Namun semua itu bukanlah halangan, karena fokus adalah prioritas. Okky berprinsip bahwa kegiatan menulis itu ibarat sebuah kebutuhan utama yang harus dipenuhi setiap hari. Dengan demikian tak heran bila Okky mampu menghabiskan separuh harinya hanya untuk menulis. Konsisten Konsistensi dalam konteks ini adalah mengelola perhatian, mengelola energi dan emosi untuk terus berjalan hingga tahap terakhir dalam penulisan sebuah novel. Melalui konsistensi tersebut, dengan sendirinya dalam hati kita akan tertanam sebuah keteguhan hati, ketetapan sikap dan memiliki posisi yang jelas dalam berbagai persoalan  di masyarakat. Membaca Memukan Inspirasi Selain menulis, Okky juga kerap mengahabiskan waktunya untuk membaca karya-karya sastra. Ia bahkan menngoleksi karya pemenang nobel sastra dari tahun ke tahun. Karena proses intens membaca karya sastra itu memberi pengaruh kuat terhadap kemampuan menulis yang dimilikinya.

News

Serupa Tapi Tak Sama, Inilah Perbedaan Biografi dan Autobiografi

Sekilas karya sastra biografi memang hampir sama dengan karya sastra autobiografi. Nyatanya, menulis karya sastra biografi sangat berbeda dengan menulis autobiografi. Perbedaan dari kedua teks tersebut memang tidak terlalu mencolok, terlebih apabila kita tidak memperhatikannya dengan detail. Namun tenang saja, berikut beberapa perbedaan biografi dan autobiografi yang perlu diketahui. Arti yang Tidak Sama Pertama-tama, kita akan membahas pengertian dari biografi terlebih dahulu. Biografi adalah kisah dari seorang tokoh yang dituliskan oleh orang lain sehingga bukan ditulis oleh tokoh yang ada dalam buku tersebut sendiri. Contoh penulisan biografi yang terkenal misalnya buku berjudul “Gus Dur” yang ditulis oleh Greg Barton. Sementara autobiografi adalah sebuah karya tulis yang memuat riwayat hidup seorang tokoh dan ditulis oleh tokohnya sendiri. Misalnya saja buku autobiografi yang terkenal adalah “Mein Kampf” yang ditulis sendiri oleh Adolf Hitler. Detail yang Berbeda             Baik karya sastra biografi maupun autobiografi, umumnya memang berisikan riwayat hidup seseorang secara mendetail, mulai dari awal hingga kehidupannya. Namun, jika diperhatikan lagi, terdapat perbedaan di antara keduanya. Acap kali dalam karya biografi memuat kisah tentang latar belakang kelahiran sang tokoh, pendidikan, keluarga, dan pemikirannya yang tidak diceritakan secara mendetail. Berbeda dengan autobiografi yang membahas semua hal tersebut secara mendetail, bahkan mirip seperti buku diary karena memang ditulis oleh tokoh yang bersangkutan. Contoh penulisan biografi dari R.A. Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul ”Panggil Aku Kartini Saja” misalnya, sangat berbeda dengan buku autobiografi yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebab buku tersebut diterbitkan J.H. Abendanon berdasarkan surat-surat yang ditulis sendiri oleh R.A. Kartini. Sudut Pandang dan Gaya Bahasa yang Berbeda Perbedaan lain yang mencolok dalam kedua karya sastra ini terletak pada sudut pandang dan gaya bahasanya. Dalam biografi menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena dituliskan oleh orang lain. Sementara dalam autobiografi, menggunakan sudut pandang orang pertama karena ditulis oleh dirinya sendiri. Dari segi gaya bahasa, umumnya lebih menonjol buku autobiografi karena murni ditulis oleh tokoh aslinya sehingga pembaca seakan-akan berbicara langsung dengan tokoh tersebut. Meski begitu, banyak juga buku biografi yang gaya bahasanya disesuaikan dengan tokoh yang bersangkutan. Serupa tetapi tak sama. Setelah mempelajari perbedaan serta contoh penulisan biografi dan autobiografi, pastinya kita akan lebih memahami karakteristik dari keduanya. Jadi jangan sampai tertukar lagi untuk menyebutnya ya!

News

Menulis Membutuhkan Inspirasi? Benar atau Salah?

Banyak orang yang bilang bahwa menulis itu adalah hal yang paling sulit. Menulis membutuhkan berbagai macam inspirasi. Tidak banyak orang yang mampu mendapatkan inspirasi dalam menulis. Padahal, sebenarnya inspirasi untuk menulis itu bisa didapatkan dari beberapa sumber. Kita tidak perlu susah payah mencari ke sana ke mari hingga ke penjuru dunia untuk mendapatkan sumber inspirasi dalam menulis. Sumber-sumber inspirasi untuk menulis bisa kita jumpai di kehidupan kita sehari-hari. Sayangnya, masih banyak orang yang belum mengetahui bahwa sumber-sumber inilah yang dapat digunakan sebagai pemantik untuk memunculkan inspirasi dalam otak kita. Apa saja sih sumber-sumber tersebut? Musik Bagi sebagian orang terutama seseorang yang memiliki kecerdasan musikal, mereka akan cenderung menggunakan musik sebagai media atau sumber untuk mendapatkan inspirasi. Dengan mendengarkan musik, seseorang akan merasa terpacu untuk menulis. Mereka beranggapan bahwa ide-ide cemerlang akan muncul ketika mereka mendengarkan musik. Ketika ide-ide ini muncul, otomatis akan memudahkan mereka dalam menyelesaikan tulisannya. Alam Bagi seseorang yang memiliki kecerdasan naturalis, alam merupakan teman baik mereka. Mereka akan dengan mudah mengerjakan sesuatu jika berada di alam termasuk menulis. Semua ide-ide cemerlang akan muncul seketika. Seseorang yang lebih senang mengerjakan sesuatu di alam rela bepergian jauh dan mengunjungi alam terdekat hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Bagi mereka, kondisi yang tenang, nyaman, dan asri seperti alam akan menyegarkan pikiran mereka dan memudahkan inspirasi lebih cepat masuk ke dalam otak. Buku Dengan membaca buku, kita bisa mendapatkan inspirasi untuk menulis loh. Percaya atau tidak, dengan sering membaca buku kita akan dengan mudah mendapatkan inspirasi. Bisa saja kita akan mendapatkan inspirasi dari segi diksi yang digunakan atau mungkin dari pesan yang disampaikan oleh penulis dan dapat kita sampaikan kembali dalam tulisan kita ketika isi tulisan kita sama dengan buku yang kita baca. Media Sosial Siapa bilang media sosial tidak dapat digunakan sebagai referensi untuk mendapatkan inspirasi dalam menulis? Kata siapa media sosial hanya berisi hal-hal negatif saja? Penggunaan media sosial yang sangat pesat akhir-akhir ini masih mengandung hal-hal positif yang bisa kita gunakan untuk memperoleh inspirasi. Misalkan kita bertemu dengan seorang pemulung yang viral di media sosial karena kegigihannya. Beliau bercerita pada kita bahwa beliau bisa berangkat haji dari hasil bekerjanya. Nah, kita dapat mengangkat kisah tersebut menjadi sebuah buku untuk lebih memotivasi banyak orang. Itu adalah beberapa sumber yang dapat dijadikan sumber inspirasi kita dalam menulis. Masih ada banyak hal lainnya yang dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi dalam menulis. Menulis itu memang membutuhkan inspirasi. Inspirasi itu datang karena kita yang berusaha untuk mencarinya bukan dengan menunggu, menunggu, dan terus menunggu. Inspirasi tidak akan datang kalau kita hanya menunggunya seperti yang selama ini diucapkan oleh seseorang saat kita tanya mengapa tulisanmu tak kunjung selesai. Dari beberapa sumber yang telah disebutkan di atas, mana sumber favorit kalian? Apakah semua sumber di atas adalah sumber favorit kalian atau justru tidak ada satu pun yang telah disebutkan?

Scroll to Top