menulis naskah

News

Punya Kebiasaan Aneh Saat Menulis? Wajar Nggak Sih?

Ketika sedang menulis sebuah karya, tanpa disadari kita sering memiliki kebiasaan yang mungkin bagi orang lain terkesan aneh bahkan cringe. Kebiasaan ini sering dianggap aneh karena tidak semua orang melakukannya. Bahkan bisa jadi kebiasaan itu hanya kita saja yang melakukannya. Nah, kalau sudah seperti ini sering timbul pertanyaan “Wajar nggak sih aku punya kebiasaan aneh setiap kali menulis?”. Jawabannya adalah wajar. Kok bisa? Iya, sebab setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya termasuk menulis. Kita tidak perlu sedih karena diri kita dianggap “aneh” karena kebiasaan yang kita miliki. Banyak penulis bahkan penulis yang namanya sudah melambung juga memiliki kebiasaan yang aneh kok. Siapa saja sih mereka dan apa kebiasaan aneh yang mereka lakukan? Friedrich Schiller Johann Christoph Friedrich von Schiller, penyair dan penulis naskah drama asal Jerman yang lahir pada 10 November 1759 ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di malam hari. Jika harus bekerja di pagi atau siang hari, beliau selalu menutup ruangannya dengan tirai berwarna merah untuk menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menerangi ruang kerjanya. Ketika beliau merasa bosan maka beliau akan membenamkan kakinya ke dalam air dingin agar dirinya tetap terjaga. Selain kebiasaan tersebut, Schiller memiliki kebiasaan aneh lainnya dan cukup mencengangkan. Beliau senang menyimpan apel busuk di dalam lacinya. Menurut istrinya, beliau tidak akan bisa bekerja jika tidak mencium aroma busuk. Wah, aneh juga ya? Kebanyakan orang akan terganggu jika mencium aroma busuk, tapi beliau justru terlihat begitu mencintainya. Agatha Christie Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau kita lebih mengenalnya dengan Agatha Christie ini memiliki kebiasaan aneh juga dalam menulis. Penulis fiksi kriminal asal Inggris ini sempat memiliki permintaan khusus untuk kamar mandinya. Kok kamar mandi sih? Iya. Baginya, bak mandi adalah ruang kerja utamanya. Beliau bisa menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun plot yang rumit sembari berendam di air hangat dan menikmati apel. Keren ya? Mungkin kalau kita berendam di air hangat hingga terasa rileks seluruh tubuh akan tertidur hihihi. Collete Sidonie-Gabrielle Collete yang dilahirkan pada tahun 1873 ini memiliki kebiasaan aneh saat menulis yang membuat suaminya geleng-geleng kepala. Pasalnya, novelis “gila” asal Prancis ini memiliki ritual khusus. Beliau harus menemukan kutu di anjing peliharaannya sebelum memulai untuk menulis. Edgar Allan Poe Kalau Collete memiliki kebiasaan aneh dengan anjingnya, berbeda dengan Edgar Allan Poe atau yang lebih dikenal dengan nama Poe. Penulis, penyair, editor, sekaligus kritikus sastra asal negeri Paman Sam ini memiliki kebiasaan aneh dengan kucingnya yang diberi nama Catterina. Saat menulis, Poe selalu ditemani oleh Catterina yang setia “bertengger” di pundaknya. Baginya, dengan ada Catterina di sisinya maka beliau akan selalu merasa diawasi. Lucu juga ya hehe. Victor Hugo Penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan terkenal sebagai salah satu penyair terbesar di Prancis ternyata juga memiliki kebiasaan aneh saat menulis. Penulis “Les Miserables” ini selalu mengurung dirinya di dalam rumah agar tetap produktif. Tidak hanya itu saja, beliau bahkan rela menyimpan seluruh pakaiannya rapat-rapat dalam lemari agar dirinya dapat berpikir bahwa tidak akan keluar rumah jika tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dikenakan. Kebiasaan ini bisa kita tiru, loh karena keluar rumah hanya untuk bersenang-senang dapat membuang-buang waktu dan membuat karya kita tidak akan cepat selesai.

News

Menulis Puluhan Ribu Kata Hanya dalam Waktu Sekejap? Mana Mungkin!

Menulis memang terkenal dengan hal yang sulit terutama bagi penulis pemula. Jangankan untuk menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata seperti pada judul, menulis puluhan kata saja terasa sangat sulit. Menulis sering kali dianalogikan sebagai mencari tumpukan jarum di dalam jerami. Wah, sesulit itu ya? Tetapi, tahukah kalian bahwa kita bisa kok menulis puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap? Ya, kita bisa melakukannya hanya dalam hitungan 1 bulan saja. Nggak percaya? Memangnya bisa? Bisa banget! Nih, simak beberapa tips berikut agar kita dapat menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap. Bagilah sesi menulis menjadi beberapa waktu Hal ini penting untuk kita lakukan agar lebih fokus dalam mengerjakan naskah. Jika kita ingin menulis 20.000 kata berarti kita harus membagi sesi menulis kita menjadi 3-4 waktu agar tidak “pusing” saat menulis. Dalam satu waktu, kita bisa menghabiskannya dengan menulis sebanyak 5.000 kata. Memang, 5.000 kata tidak sedikit untuk kita tuliskan. Akan tetapi, dengan membagi sesi menulis maka akan memudahkan kita untuk menyelesaikan 5.000 kata tersebut. Merencanakan sesi menulis Setelah membagi sesi menulis ke dalam beberapa waktu, kita harus mengetahui dan merencanakan kapan akan mengeksekusi tulisannya. Kita tidak harus selalu dan selalu menulis hingga melupakan kehidupan serta aktivitas kita sehari-hari. Hal yang terpenting adalah kita harus menyempatkan menulis di sesi yang telah ditentukan sembari menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Tidak perlu menulis sesuai urutannya Bagi sebagian penulis, menulis tidak sesuai urutannya akan membuatnya bingung. Ada banyak penulis yang tidak senang jika dirinya harus menulis secara “lompat-lompat”. Baginya, menulis “lompat-lompat” akan memunculkan penyakit writer’s block dan berakibat pada tidak nyambungnya tulisan kita dengan bagian sebelumnya. Akan tetapi, sebagian penulis menganggap bahwa menulis tidak sesuai urutannya akan membuat dirinya lebih produkif. Bagi mereka, tulislah apa yang ingin kita tulis. Jangan berpaku pada urutan bagian yang sudah direncanakan. Nah, kalau kalian tim yang mana nih? Tim yang menulis harus urut sesuai bagiannya atau tim yang menulis “lompat-lompat”? Tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan disela dengan kegiatan lain Kebanyakan penulis pemula ketika menulis pasti disambi dengan kegiatan lainnya. Tak jarang, kita sebagai penulis pemula ini selalu menulis sambil menyunting/mengedit. Ini adalah kebiasaan buruk yang membuat naskah tidak cepat selesai. Kita harus terus menulis. Tuangkan semua ide-ide cemerlang yang ada dalam pikiran kita. Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk menulis sambil menyunting naskah yang sedang kita tuliskan. Hal ini biasanya akan memunculkan writer’s block dan kita akan mudah terdistraksi oleh naskah kita yang masih “berantakan”. Memang, naskah yang pertama kali kita tuliskan tidak sempurna. Semua penulis pun ketika menuliskan naskah untuk pertama kali pasti tidak akan mencapai kata sempurna. Tetapi jangan khawatir. Kita bisa menyuntingnya ketika semua isi yang akan kita tulis di dalam naskah tersebut terselesaikan.

Tips

Bagaimana Agar Karya Mudah Diterima Pembaca?

(sumber : JawaPos.com) Bakat yang dimiliki seseorang tentu berbeda-beda. Ada yang memiliki bakat melukis, menyanyi, memasak, atau bahkan menulis. Berbicara mengenai bakat menulis, Anda sebenarnya tidak perlu berangkat dari bakat. Sebab syarat menjadi penulis buku hanya membutuhkan latihan dan kesungguhan. Segala sesuatu pastinya memiliki tahapan yang harus ditempuh untuk memperoleh hasil maksimal, begitu juga dalam menulis buku. Terdapat beberapa tahapan yang harus ditempuh agar menghasilkan karya hebat. Untuk lebih jelasnya, mari sama-sama belajar dalam beberapa langkah berikut. Membuat Outline             Outline atau susunan buku merupakan bagian penting yang harus dipersiapkan sebelum memulai menulis. Susunan ini berisikan bagian-bagian yang nantinya akan menjadi kerangka tulisan. Penulis bisa memploting bagian tiap bagian berdasarkan materi yang ingin diangkat dengan mengelompokkannya menjadi suatu kategori tertentu, atau yang disebut bab. Menulis Hal yang Dikuasai Cara membuat buku agar mudah diterima pembaca adalah dengan menuliskan hal-hal yang dikuasai. Bayangkan ketika Anda adalah orang dengan keahlian di bidang kesehatan tetapi menulis sesuatu tentang masalah keuangan. Hal ini tentu kurang relevan karena Anda tidak akan bisa membahas bidang tersebut secara mendalam. Riset Bahan Setelah mengetahui topik yang ingin diangkat dan Anda memang menguasainya, selanjutnya pastikan untuk melakukan riset bahan secara mendalam. Riset bahan ini akan sangat membantu memperluas materi yang Anda bahas, apalagi pembaca hari ini menyukai suatu pembahasan yang singkat tetapi dikupas secara mendalam. Gaya Bahasa             Gaya penulisan sebuah buku dapat mempengaruhi minat pembaca untuk membeli buku tersebut. Cara menentukan gaya bahasa bisa dilihat dari target pembacanya. Misalnya target pembaca yang disasar adalah kalangan milenial, maka gaya bahasa yang digunakan harus ramah dengan dunia mereka. Sebenarnya di sinilah kunci menarik tidaknya sebuah tulisan karena ketika gaya bahasa yang digunakan salah, artinya kita tidak bisa menyasar target pembaca kita. Nah itulah beberapa cara membuat buku yang perlu Anda perhatikan sebelum menerbitkan sebuah karya. Perlu diingat bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa diselesaikan.

News

Serupa Tapi Tak Sama, Inilah Perbedaan Biografi dan Autobiografi

Sekilas karya sastra biografi memang hampir sama dengan karya sastra autobiografi. Nyatanya, menulis karya sastra biografi sangat berbeda dengan menulis autobiografi. Perbedaan dari kedua teks tersebut memang tidak terlalu mencolok, terlebih apabila kita tidak memperhatikannya dengan detail. Namun tenang saja, berikut beberapa perbedaan biografi dan autobiografi yang perlu diketahui. Arti yang Tidak Sama Pertama-tama, kita akan membahas pengertian dari biografi terlebih dahulu. Biografi adalah kisah dari seorang tokoh yang dituliskan oleh orang lain sehingga bukan ditulis oleh tokoh yang ada dalam buku tersebut sendiri. Contoh penulisan biografi yang terkenal misalnya buku berjudul “Gus Dur” yang ditulis oleh Greg Barton. Sementara autobiografi adalah sebuah karya tulis yang memuat riwayat hidup seorang tokoh dan ditulis oleh tokohnya sendiri. Misalnya saja buku autobiografi yang terkenal adalah “Mein Kampf” yang ditulis sendiri oleh Adolf Hitler. Detail yang Berbeda             Baik karya sastra biografi maupun autobiografi, umumnya memang berisikan riwayat hidup seseorang secara mendetail, mulai dari awal hingga kehidupannya. Namun, jika diperhatikan lagi, terdapat perbedaan di antara keduanya. Acap kali dalam karya biografi memuat kisah tentang latar belakang kelahiran sang tokoh, pendidikan, keluarga, dan pemikirannya yang tidak diceritakan secara mendetail. Berbeda dengan autobiografi yang membahas semua hal tersebut secara mendetail, bahkan mirip seperti buku diary karena memang ditulis oleh tokoh yang bersangkutan. Contoh penulisan biografi dari R.A. Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul ”Panggil Aku Kartini Saja” misalnya, sangat berbeda dengan buku autobiografi yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebab buku tersebut diterbitkan J.H. Abendanon berdasarkan surat-surat yang ditulis sendiri oleh R.A. Kartini. Sudut Pandang dan Gaya Bahasa yang Berbeda Perbedaan lain yang mencolok dalam kedua karya sastra ini terletak pada sudut pandang dan gaya bahasanya. Dalam biografi menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena dituliskan oleh orang lain. Sementara dalam autobiografi, menggunakan sudut pandang orang pertama karena ditulis oleh dirinya sendiri. Dari segi gaya bahasa, umumnya lebih menonjol buku autobiografi karena murni ditulis oleh tokoh aslinya sehingga pembaca seakan-akan berbicara langsung dengan tokoh tersebut. Meski begitu, banyak juga buku biografi yang gaya bahasanya disesuaikan dengan tokoh yang bersangkutan. Serupa tetapi tak sama. Setelah mempelajari perbedaan serta contoh penulisan biografi dan autobiografi, pastinya kita akan lebih memahami karakteristik dari keduanya. Jadi jangan sampai tertukar lagi untuk menyebutnya ya!

Tips

Bagaimana Agar Karya Mudah Diterima Pembaca?

(sumber : JawaPos.com) Bakat yang dimiliki seseorang tentu berbeda-beda. Ada yang memiliki bakat melukis, menyanyi, memasak, atau bahkan menulis. Berbicara mengenai bakat menulis, Anda sebenarnya tidak perlu berangkat dari bakat. Sebab syarat menjadi penulis buku hanya membutuhkan latihan dan kesungguhan. Segala sesuatu pastinya memiliki tahapan yang harus ditempuh untuk memperoleh hasil maksimal, begitu juga dalam menulis buku. Terdapat beberapa tahapan yang harus ditempuh agar menghasilkan karya hebat. Untuk lebih jelasnya, mari sama-sama belajar dalam beberapa langkah berikut. Membuat Outline             Outline atau susunan buku merupakan bagian penting yang harus dipersiapkan sebelum memulai menulis. Susunan ini berisikan bagian-bagian yang nantinya akan menjadi kerangka tulisan. Penulis bisa memploting bagian tiap bagian berdasarkan materi yang ingin diangkat dengan mengelompokkannya menjadi suatu kategori tertentu, atau yang disebut bab. Menulis Hal yang Dikuasai Cara membuat buku agar mudah diterima pembaca adalah dengan menuliskan hal-hal yang dikuasai. Bayangkan ketika Anda adalah orang dengan keahlian di bidang kesehatan tetapi menulis sesuatu tentang masalah keuangan. Hal ini tentu kurang relevan karena Anda tidak akan bisa membahas bidang tersebut secara mendalam. Riset Bahan Setelah mengetahui topik yang ingin diangkat dan Anda memang menguasainya, selanjutnya pastikan untuk melakukan riset bahan secara mendalam. Riset bahan ini akan sangat membantu memperluas materi yang Anda bahas, apalagi pembaca hari ini menyukai suatu pembahasan yang singkat tetapi dikupas secara mendalam. Gaya Bahasa             Gaya penulisan sebuah buku dapat mempengaruhi minat pembaca untuk membeli buku tersebut. Cara menentukan gaya bahasa bisa dilihat dari target pembacanya. Misalnya target pembaca yang disasar adalah kalangan milenial, maka gaya bahasa yang digunakan harus ramah dengan dunia mereka. Sebenarnya di sinilah kunci menarik tidaknya sebuah tulisan karena ketika gaya bahasa yang digunakan salah, artinya kita tidak bisa menyasar target pembaca kita. Nah itulah beberapa cara membuat buku yang perlu Anda perhatikan sebelum menerbitkan sebuah karya. Perlu diingat bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa diselesaikan.

News

Serupa Tapi Tak Sama, Inilah Perbedaan Biografi dan Autobiografi

Sekilas karya sastra biografi memang hampir sama dengan karya sastra autobiografi. Nyatanya, menulis karya sastra biografi sangat berbeda dengan menulis autobiografi. Perbedaan dari kedua teks tersebut memang tidak terlalu mencolok, terlebih apabila kita tidak memperhatikannya dengan detail. Namun tenang saja, berikut beberapa perbedaan biografi dan autobiografi yang perlu diketahui. Arti yang Tidak Sama Pertama-tama, kita akan membahas pengertian dari biografi terlebih dahulu. Biografi adalah kisah dari seorang tokoh yang dituliskan oleh orang lain sehingga bukan ditulis oleh tokoh yang ada dalam buku tersebut sendiri. Contoh penulisan biografi yang terkenal misalnya buku berjudul “Gus Dur” yang ditulis oleh Greg Barton. Sementara autobiografi adalah sebuah karya tulis yang memuat riwayat hidup seorang tokoh dan ditulis oleh tokohnya sendiri. Misalnya saja buku autobiografi yang terkenal adalah “Mein Kampf” yang ditulis sendiri oleh Adolf Hitler. Detail yang Berbeda             Baik karya sastra biografi maupun autobiografi, umumnya memang berisikan riwayat hidup seseorang secara mendetail, mulai dari awal hingga kehidupannya. Namun, jika diperhatikan lagi, terdapat perbedaan di antara keduanya. Acap kali dalam karya biografi memuat kisah tentang latar belakang kelahiran sang tokoh, pendidikan, keluarga, dan pemikirannya yang tidak diceritakan secara mendetail. Berbeda dengan autobiografi yang membahas semua hal tersebut secara mendetail, bahkan mirip seperti buku diary karena memang ditulis oleh tokoh yang bersangkutan. Contoh penulisan biografi dari R.A. Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul ”Panggil Aku Kartini Saja” misalnya, sangat berbeda dengan buku autobiografi yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebab buku tersebut diterbitkan J.H. Abendanon berdasarkan surat-surat yang ditulis sendiri oleh R.A. Kartini. Sudut Pandang dan Gaya Bahasa yang Berbeda Perbedaan lain yang mencolok dalam kedua karya sastra ini terletak pada sudut pandang dan gaya bahasanya. Dalam biografi menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena dituliskan oleh orang lain. Sementara dalam autobiografi, menggunakan sudut pandang orang pertama karena ditulis oleh dirinya sendiri. Dari segi gaya bahasa, umumnya lebih menonjol buku autobiografi karena murni ditulis oleh tokoh aslinya sehingga pembaca seakan-akan berbicara langsung dengan tokoh tersebut. Meski begitu, banyak juga buku biografi yang gaya bahasanya disesuaikan dengan tokoh yang bersangkutan. Serupa tetapi tak sama. Setelah mempelajari perbedaan serta contoh penulisan biografi dan autobiografi, pastinya kita akan lebih memahami karakteristik dari keduanya. Jadi jangan sampai tertukar lagi untuk menyebutnya ya!

News

Punya Kebiasaan Aneh Saat Menulis? Wajar Nggak Sih?

Ketika sedang menulis sebuah karya, tanpa disadari kita sering memiliki kebiasaan yang mungkin bagi orang lain terkesan aneh bahkan cringe. Kebiasaan ini sering dianggap aneh karena tidak semua orang melakukannya. Bahkan bisa jadi kebiasaan itu hanya kita saja yang melakukannya. Nah, kalau sudah seperti ini sering timbul pertanyaan “Wajar nggak sih aku punya kebiasaan aneh setiap kali menulis?”. Jawabannya adalah wajar. Kok bisa? Iya, sebab setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya termasuk menulis. Kita tidak perlu sedih karena diri kita dianggap “aneh” karena kebiasaan yang kita miliki. Banyak penulis bahkan penulis yang namanya sudah melambung juga memiliki kebiasaan yang aneh kok. Siapa saja sih mereka dan apa kebiasaan aneh yang mereka lakukan? Friedrich Schiller Johann Christoph Friedrich von Schiller, penyair dan penulis naskah drama asal Jerman yang lahir pada 10 November 1759 ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di malam hari. Jika harus bekerja di pagi atau siang hari, beliau selalu menutup ruangannya dengan tirai berwarna merah untuk menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menerangi ruang kerjanya. Ketika beliau merasa bosan maka beliau akan membenamkan kakinya ke dalam air dingin agar dirinya tetap terjaga. Selain kebiasaan tersebut, Schiller memiliki kebiasaan aneh lainnya dan cukup mencengangkan. Beliau senang menyimpan apel busuk di dalam lacinya. Menurut istrinya, beliau tidak akan bisa bekerja jika tidak mencium aroma busuk. Wah, aneh juga ya? Kebanyakan orang akan terganggu jika mencium aroma busuk, tapi beliau justru terlihat begitu mencintainya. Agatha Christie Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau kita lebih mengenalnya dengan Agatha Christie ini memiliki kebiasaan aneh juga dalam menulis. Penulis fiksi kriminal asal Inggris ini sempat memiliki permintaan khusus untuk kamar mandinya. Kok kamar mandi sih? Iya. Baginya, bak mandi adalah ruang kerja utamanya. Beliau bisa menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun plot yang rumit sembari berendam di air hangat dan menikmati apel. Keren ya? Mungkin kalau kita berendam di air hangat hingga terasa rileks seluruh tubuh akan tertidur hihihi. Collete Sidonie-Gabrielle Collete yang dilahirkan pada tahun 1873 ini memiliki kebiasaan aneh saat menulis yang membuat suaminya geleng-geleng kepala. Pasalnya, novelis “gila” asal Prancis ini memiliki ritual khusus. Beliau harus menemukan kutu di anjing peliharaannya sebelum memulai untuk menulis. Edgar Allan Poe Kalau Collete memiliki kebiasaan aneh dengan anjingnya, berbeda dengan Edgar Allan Poe atau yang lebih dikenal dengan nama Poe. Penulis, penyair, editor, sekaligus kritikus sastra asal negeri Paman Sam ini memiliki kebiasaan aneh dengan kucingnya yang diberi nama Catterina. Saat menulis, Poe selalu ditemani oleh Catterina yang setia “bertengger” di pundaknya. Baginya, dengan ada Catterina di sisinya maka beliau akan selalu merasa diawasi. Lucu juga ya hehe. Victor Hugo Penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan terkenal sebagai salah satu penyair terbesar di Prancis ternyata juga memiliki kebiasaan aneh saat menulis. Penulis “Les Miserables” ini selalu mengurung dirinya di dalam rumah agar tetap produktif. Tidak hanya itu saja, beliau bahkan rela menyimpan seluruh pakaiannya rapat-rapat dalam lemari agar dirinya dapat berpikir bahwa tidak akan keluar rumah jika tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dikenakan. Kebiasaan ini bisa kita tiru, loh karena keluar rumah hanya untuk bersenang-senang dapat membuang-buang waktu dan membuat karya kita tidak akan cepat selesai.

News

Menulis Puluhan Ribu Kata Hanya dalam Waktu Sekejap? Mana Mungkin!

Menulis memang terkenal dengan hal yang sulit terutama bagi penulis pemula. Jangankan untuk menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata seperti pada judul, menulis puluhan kata saja terasa sangat sulit. Menulis sering kali dianalogikan sebagai mencari tumpukan jarum di dalam jerami. Wah, sesulit itu ya? Tetapi, tahukah kalian bahwa kita bisa kok menulis puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap? Ya, kita bisa melakukannya hanya dalam hitungan 1 bulan saja. Nggak percaya? Memangnya bisa? Bisa banget! Nih, simak beberapa tips berikut agar kita dapat menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap. Bagilah sesi menulis menjadi beberapa waktu Hal ini penting untuk kita lakukan agar lebih fokus dalam mengerjakan naskah. Jika kita ingin menulis 20.000 kata berarti kita harus membagi sesi menulis kita menjadi 3-4 waktu agar tidak “pusing” saat menulis. Dalam satu waktu, kita bisa menghabiskannya dengan menulis sebanyak 5.000 kata. Memang, 5.000 kata tidak sedikit untuk kita tuliskan. Akan tetapi, dengan membagi sesi menulis maka akan memudahkan kita untuk menyelesaikan 5.000 kata tersebut. Merencanakan sesi menulis Setelah membagi sesi menulis ke dalam beberapa waktu, kita harus mengetahui dan merencanakan kapan akan mengeksekusi tulisannya. Kita tidak harus selalu dan selalu menulis hingga melupakan kehidupan serta aktivitas kita sehari-hari. Hal yang terpenting adalah kita harus menyempatkan menulis di sesi yang telah ditentukan sembari menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Tidak perlu menulis sesuai urutannya Bagi sebagian penulis, menulis tidak sesuai urutannya akan membuatnya bingung. Ada banyak penulis yang tidak senang jika dirinya harus menulis secara “lompat-lompat”. Baginya, menulis “lompat-lompat” akan memunculkan penyakit writer’s block dan berakibat pada tidak nyambungnya tulisan kita dengan bagian sebelumnya. Akan tetapi, sebagian penulis menganggap bahwa menulis tidak sesuai urutannya akan membuat dirinya lebih produkif. Bagi mereka, tulislah apa yang ingin kita tulis. Jangan berpaku pada urutan bagian yang sudah direncanakan. Nah, kalau kalian tim yang mana nih? Tim yang menulis harus urut sesuai bagiannya atau tim yang menulis “lompat-lompat”? Tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan disela dengan kegiatan lain Kebanyakan penulis pemula ketika menulis pasti disambi dengan kegiatan lainnya. Tak jarang, kita sebagai penulis pemula ini selalu menulis sambil menyunting/mengedit. Ini adalah kebiasaan buruk yang membuat naskah tidak cepat selesai. Kita harus terus menulis. Tuangkan semua ide-ide cemerlang yang ada dalam pikiran kita. Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk menulis sambil menyunting naskah yang sedang kita tuliskan. Hal ini biasanya akan memunculkan writer’s block dan kita akan mudah terdistraksi oleh naskah kita yang masih “berantakan”. Memang, naskah yang pertama kali kita tuliskan tidak sempurna. Semua penulis pun ketika menuliskan naskah untuk pertama kali pasti tidak akan mencapai kata sempurna. Tetapi jangan khawatir. Kita bisa menyuntingnya ketika semua isi yang akan kita tulis di dalam naskah tersebut terselesaikan.

Scroll to Top