penulis cerdas

News

9 Bulan #dirumahaja, Sudah Produktifkah Kita?

Siapa yang menyangka akan merasakan “kelumpuhan” seperti ini. Adanya pandemi covid-19 yang menyerang Indonesia sejak awal tahun 2020 membuat kita harus berdiam diri di rumah. Kita diminta untuk mengurangi segala aktivitas di luar rumah guna menghentikan penyebaran virus yang merebak. Kita juga diminta untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Semula kita mengira bahwa pandemi ini akan berakhir dalam waktu yang tidak lama. Tak disangka, ternyata pandemi ini membuat kita harus “mengisolasi” diri kita hampir satu tahun lamanya. Ketika diinfokan untuk berdiam diri di rumah dan melakukan segala aktivitas dari rumah, euforia masyarakat Indonesia terlihat begitu antusias. Masyarakat Indonesia merasa “merdeka” dari seluruh hiruk pikuk yang dirasakan setiap harinya. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia terlihat ogah-ogahan bahkan muak dalam menjalani hari yang apa-apa serba online dan hanya bisa dilakukan di rumah saja. Mengapa rasa muak ini bisa terjadi? Coba kita tengok kembali, selama 9 bulan #dirumahaja apakah kita sudah produktif? Apa yang sudah kita kerjakan selama 9 bulan ini? Apakah kita hanya rebahan sambil membuka sosial media selama satu hari penuh? Atau kita sudah melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk mengusir kebosanan yang melanda selama 9 bulan #dirumahaja? Kalau kita merasa muak, berarti selama ini kita menjalani hari dengan bermalas-malasan saja. Kita merasa hidup ini terlalu monoton. Padahal kalau kita ingin menjadi lebih produktif selama di rumah, kita bisa mengikuti berbagai macam workshop atau kelas-kelas pelatihan yang diadakan secara online baik di media sosial maupun di grup perpesanan instan seperti WhatsApp, Line, Telegram, dan sebagainya. Salah satu kelas pelatihan yang bisa kita ikuti yakni kelas menulis. Kelas menulis ini bisa diikuti oleh siapa pun terutama bagi kita yang ingin menjadi seorang penulis. Mengikuti kelas menulis di kala pandemi ini sangat bagus untuk mengusir kejenuhan kita selama di rumah. Dengan mengikuti kelas menulis, kita bisa mengasah kemampuan menulis yang kita miliki loh. Tidak hanya itu saja, kita juga akan mendapatkan ilmu-ilmu baru mengenai kepenulisan. Bahkan, tidak jarang ada instansi yang menyelenggarakan kelas menulis “berhadiah”. Para penyelenggara biasanya akan memberikan fasilitas untuk menerbitkan tulisan yang selesai kita tuliskan selama kelas menulis diadakan. Biasanya, para penyelenggara akan memberikan tenggat waktu untuk setiap karya yang ditulis. Misalkan hari ini pihak menyelenggara akan memberikan materi mengenai menulis kalimat efektif kemudian mereka meminta kita untuk membuat cerita yang mengandung kalimat efektif di dalamnya sesuai dengan materi yang telah diberi sebelumnya. Nah, biasanya pihak penyelenggara akan memberikan tenggat waktu untuk setiap penugasan. Setiap penugasan ini tentunya akan menguji kualitas pemahaman dan tulisan kita setelah menghadiri kelas pada hari itu. Kita dapat menilai diri kita apakah kita benar-benar memahami materi yang disampaikan atau kita hanya mendengarkannya saja sambil lalu tanpa ada sedikit pun materi yang nyantol di otak. Dari sini kita bisa melihat bahwa dengan mengikuti kelas-kelas pelatihan online baik itu kelas pelatihan menulis, kelas pelatihan menjahit, kelas pelatihan bisnis, maupun kelas pelatihan lainnya selama masa pandemi benar-benar membuat kita produktif. Selain disibukkan dengan berbagai pekerjaan maupun tugas yang dilakukan selama #dirumahaja, kita juga harus mencari kesibukan lain agar kita lebih terampil dan menghabiskan waktu dengan lebih bermanfaat.

News

Menjadi Kaya Raya Hanya dengan Menulis? Nggak Percaya?

Banyak orang yang menganggap bahwa penghasilan seorang penulis tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka selalu memandang sepele mengenai profesi penulis. Padahal, menjadi seorang penulis itu dapat membuat kita kaya raya loh. Nggak percaya? Zaman dulu, ketika kita memiliki sebuah karya baik fiksi maupun nonfiksi ya hanya kita simpan saja di lemari sampai kertas tersebut berdebu dan berubah warna. Tetapi, zaman sekarang sudah berbeda dengan dulu. Sekarang sudah banyak platform digital yang menerima karya kita untuk dipublikasikan. Bagi penulis pemula seperti kita, platform digital ini sangat membantu untuk menerbitkan sebuah karya terutama bagi kita yang masih malu-malu dan ragu untuk menerbitkan karya ke penerbit. Dari sekian banyaknya platform digital, ada beberapa platform digital untuk kepenulisan yang dapat membuat kita kaya raya. Yuk kita simak, ada apa saja sih “brankas” yang bisa digunakan untuk seorang penulis? Seperti yang kita ketahui bersama, menerbitkan sebuah buku dan mencetaknya dalam jumlah yang fantastis memang akan membuat kita kaya raya. Akan tetapi, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membuat sebuah buku apalagi buku tersebut memiliki ratusan lembar. Untuk menulis satu paragraf saja rasanya sudah berat apalagi menuliskan beratus-ratus bahkan beribu-ribu paragraf. Pasti puyeng, kan? Nah, berikut beberapa platform digital yang bisa kita gunakan untuk mengirimkan karya kita. JalanTikus Bagi kita yang menggemari dunia teknologi, JalanTikus adalah jawabannya. Kita bisa menjadi kontributor di JalanTikus. JalanTikus itu apa sih? JalanTikus adalah laman teknologi berbahasa Indonesia yang menyajikan informasi mengenai gadget, game, film, dan segala jenis informasi teknologi lainnya. Tahukah kalian kalau JalanTikus ini bisa membuat seorang penulis kaya raya? Di JalanTikus ini tulisan yang dipublikasikan akan mendapat bayaran sebesar Rp 50 ribu loh. Bisa dibayangkan kalau dalam satu bulan kita rutin mengirimkan artikel dan terpilih untuk dipublikasi oleh pihak JalanTikus, sudah setebal apa dompet kita? Eits, selain mendapatkan uang kita juga akan tenar sebab nama kita akan dipajang dalam setiap tulisan yang kita buat. Basabasi.co Situs ini dapat dikatakan lebih worth it untuk dipilih sebagai salah satu platform digital kepenulisan yang membuat rekening bank menggendut. Di situs ini, kita akan lebih terpacu untuk membuat konten yang berkualitas. Basabasi.co tidak asal menerima karya yang dikirimkan oleh penulis. Mereka hanya menerima karya berupa cerpen, puisi, esai, resensi buku, dan artikel populer. Meskipun tidak semua karya dari penulis akan diterima di situs ini, tetapi Basabasi berani membayar besar untuk setiap naskah yang lolos seleksi. Bayangkan saja, untuk satu kali naskah yang lolos seleksi bayarannya mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Bagaimana kalau naskah yang kita kirimkan ini bisa merajai situs selama satu bulan? Sudah segendut apa rekening bank kita? Wah, sungguh sangat menggiurkan ya? Wattpad Situs atau aplikasi yang terakhir adalah Wattpad. Tentu kita sudah sering mendengarnya, terutama bagi remaja yang senang menulis dan membaca buku elektronik dengan gaya bahasa yang ringan serta kisahnya yang menye-menye. WattPad dapat dijadikan sebagai wadah untuk mendapatkan penghasilan dari menulis. Memang, penghasilan yang didapatkan dari WattPad ini tidak langsung terlihat. Kita harus terus menerus membuat tulisan yang menarik agar dapat dilirik oleh penerbit. Eh nggak cuman penerbit saja yang akan meliriknya, bisa-bisa kalau kita membuat tulisan yang menarik akan ada storywriter atau penulis cerita yang akan tertarik untuk menjadikannya sebuah film. Menarik bukan kalau naskah kita dapat dijadikan sebuah film? Itu adalah beberapa platform digital yang dapat digunakan oleh seorang penulis pemula. Beberapa platform digital tersebut dapat kita gunakan untuk meraup keuntungan hingga jutaan rupiah setiap bulannya. Dengan begitu, kita dapat membuktikan ke orang lain kalau menjadi seorang penulis juga dapat memenuhi kebutuhan hidup. Profesi penulis bukan profesi yang sembarangan. Profesi ini bisa menjadi ladang uang kalau memang kita menekuninya.

News

Punya Kebiasaan Aneh Saat Menulis? Wajar Nggak Sih?

Ketika sedang menulis sebuah karya, tanpa disadari kita sering memiliki kebiasaan yang mungkin bagi orang lain terkesan aneh bahkan cringe. Kebiasaan ini sering dianggap aneh karena tidak semua orang melakukannya. Bahkan bisa jadi kebiasaan itu hanya kita saja yang melakukannya. Nah, kalau sudah seperti ini sering timbul pertanyaan “Wajar nggak sih aku punya kebiasaan aneh setiap kali menulis?”. Jawabannya adalah wajar. Kok bisa? Iya, sebab setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya termasuk menulis. Kita tidak perlu sedih karena diri kita dianggap “aneh” karena kebiasaan yang kita miliki. Banyak penulis bahkan penulis yang namanya sudah melambung juga memiliki kebiasaan yang aneh kok. Siapa saja sih mereka dan apa kebiasaan aneh yang mereka lakukan? Friedrich Schiller Johann Christoph Friedrich von Schiller, penyair dan penulis naskah drama asal Jerman yang lahir pada 10 November 1759 ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di malam hari. Jika harus bekerja di pagi atau siang hari, beliau selalu menutup ruangannya dengan tirai berwarna merah untuk menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menerangi ruang kerjanya. Ketika beliau merasa bosan maka beliau akan membenamkan kakinya ke dalam air dingin agar dirinya tetap terjaga. Selain kebiasaan tersebut, Schiller memiliki kebiasaan aneh lainnya dan cukup mencengangkan. Beliau senang menyimpan apel busuk di dalam lacinya. Menurut istrinya, beliau tidak akan bisa bekerja jika tidak mencium aroma busuk. Wah, aneh juga ya? Kebanyakan orang akan terganggu jika mencium aroma busuk, tapi beliau justru terlihat begitu mencintainya. Agatha Christie Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau kita lebih mengenalnya dengan Agatha Christie ini memiliki kebiasaan aneh juga dalam menulis. Penulis fiksi kriminal asal Inggris ini sempat memiliki permintaan khusus untuk kamar mandinya. Kok kamar mandi sih? Iya. Baginya, bak mandi adalah ruang kerja utamanya. Beliau bisa menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun plot yang rumit sembari berendam di air hangat dan menikmati apel. Keren ya? Mungkin kalau kita berendam di air hangat hingga terasa rileks seluruh tubuh akan tertidur hihihi. Collete Sidonie-Gabrielle Collete yang dilahirkan pada tahun 1873 ini memiliki kebiasaan aneh saat menulis yang membuat suaminya geleng-geleng kepala. Pasalnya, novelis “gila” asal Prancis ini memiliki ritual khusus. Beliau harus menemukan kutu di anjing peliharaannya sebelum memulai untuk menulis. Edgar Allan Poe Kalau Collete memiliki kebiasaan aneh dengan anjingnya, berbeda dengan Edgar Allan Poe atau yang lebih dikenal dengan nama Poe. Penulis, penyair, editor, sekaligus kritikus sastra asal negeri Paman Sam ini memiliki kebiasaan aneh dengan kucingnya yang diberi nama Catterina. Saat menulis, Poe selalu ditemani oleh Catterina yang setia “bertengger” di pundaknya. Baginya, dengan ada Catterina di sisinya maka beliau akan selalu merasa diawasi. Lucu juga ya hehe. Victor Hugo Penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan terkenal sebagai salah satu penyair terbesar di Prancis ternyata juga memiliki kebiasaan aneh saat menulis. Penulis “Les Miserables” ini selalu mengurung dirinya di dalam rumah agar tetap produktif. Tidak hanya itu saja, beliau bahkan rela menyimpan seluruh pakaiannya rapat-rapat dalam lemari agar dirinya dapat berpikir bahwa tidak akan keluar rumah jika tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dikenakan. Kebiasaan ini bisa kita tiru, loh karena keluar rumah hanya untuk bersenang-senang dapat membuang-buang waktu dan membuat karya kita tidak akan cepat selesai.

News

Mengenal Victor Hugo Lebih Dalam

Siapa yang tidak mengetahui novel “Les Miserables” dan “Notre-Dame de Paris”? Kita pasti pernah mendengar judul tersebut tapi tidak mengetahui siapa penulisnya. Ya, penulis novel “Les Miserables” ini merupakan seorang penulis aliran romantisme pada abad ke-19 yang berasal dari Prancis. Beliau adalah Victor-Marie Hugo atau lebih dikenal dengan Victor Hugo. Kelahiran Victor Hugo Hugo dilahirkan pada 26 Februari 1802 dari seorang jenderal pasukan Napoleon, Joseph Leopold Sigisbert Hugo dan seorang ibu yang bernama Sophie Trebuchet. Sejak kecil, Hugo sudah sering berpindah-pindah tempat tinggal karena ayahnya yang seorang perwira tentara Napoleon. Karena rasa bosan yang dialami oleh ibunya, akhirnya Sophie memilih untuk berpisah sementara dari Leopold dan menetap di Prancis bersama anak-anaknya. Karier Victor Hugo Ketika Hugo beranjak dewasa, beliau mulai menekuni bidang menulis. Pada tahun 1816, Hugo mulai menulis meski hanya di dalam buku harian. Selang satu tahun, beliau mulai menulis puisi untuk diikutsertakan dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh l’ Academie Francaise. Pada waktu itu, beliau meraih penghargaan yang terhormat meski masih berusia 15 tahun. Karena prestasinya di bidang menulis inilah yang membuat beliau semakin menekuni dunia menulis. Pada tahun 1823, Hugo akhirnya menerbitkan novel pertamanya yang berjudul Han d’Islande tepat setelah satu tahun menikah. Selang tiga tahun, beliau menerbitkan novel keduanya yang berjudul Bug-Jargal. Selama tiga tahun proses kepenulisan novel keduanya, beliau berhasil menerbitkan lima jilid puisi yakni Les Orientales, Les Feuilles d’aitomne, Les Chants du crepuscule, Les Voix interieures, dan Les Rayons et les Ombres. Karena hal inilah beliau dikenal sebagai salah satu penulis yang sangat produktif. Beberapa karyanya tidak cukup sampai di situ saja. Pada tahun 1829, Hugo berhasil menerbitkan karya fiksi matang untuk pertama kalinya. Pada tahun 1827, Hugo juga pernah menjadi tokoh gerakan sastra romantis dalam lakon Cromwell. Kemudian di tahun 1830, beliau kembali terjun dalam dunia drama pada lakon Hernani. Sejak itu Hugo mulai menulis lakon drama. Popularitasnya sebagai penulis naskah membuatnya berhasil untuk membuat beberapa lakon seperti Marion Delorme pada tahun 1831, The King Amuses Himself pada tahun 1832, dan Ruy Blas pada tahun 1838. Tidak hanya menulis naskah drama saja, beliau juga menulis beberapa novel. Pada tahun 1831, Hugo berhasil menerbitkan novel yang berjudul “Notre-Dame de Paris”. Tak disangka, novel ini cepat diterjemahkan dalam bahasa lain di seluruh Eropa. Ternyata, beliau menulis novel ini tidak hanya sekadar menulis. Beliau ingin mempermalukan kota Paris agar memulihkan Katedral Notre Dame yang selalu diabaikan. Kemudian pada tahun 1862, Hugo berhasil menerbitkan novel dengan judul “Les Miserables”. Beliau membutuhkan waktu 17 tahun untuk menyelesaikan novel besar tentang kesengsaraan dan ketidakadilan sosial ini. Beliau terus menerus menelorkan beberapa karya hingga ajal menjemputnya. Inilah yang membuat namanya masih terus terdengar di telinga kita terutama para penulis yang mengidolakan dirinya. Semoga ada Hugo-Hugo berikutnya yang dapat meneladani sikap produktifnya dan mampu untuk berkecimpung di dunia kepenulisan serta dunia sastra hingga akhir hayat.

News

Menulis Puluhan Ribu Kata Hanya dalam Waktu Sekejap? Mana Mungkin!

Menulis memang terkenal dengan hal yang sulit terutama bagi penulis pemula. Jangankan untuk menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata seperti pada judul, menulis puluhan kata saja terasa sangat sulit. Menulis sering kali dianalogikan sebagai mencari tumpukan jarum di dalam jerami. Wah, sesulit itu ya? Tetapi, tahukah kalian bahwa kita bisa kok menulis puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap? Ya, kita bisa melakukannya hanya dalam hitungan 1 bulan saja. Nggak percaya? Memangnya bisa? Bisa banget! Nih, simak beberapa tips berikut agar kita dapat menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap. Bagilah sesi menulis menjadi beberapa waktu Hal ini penting untuk kita lakukan agar lebih fokus dalam mengerjakan naskah. Jika kita ingin menulis 20.000 kata berarti kita harus membagi sesi menulis kita menjadi 3-4 waktu agar tidak “pusing” saat menulis. Dalam satu waktu, kita bisa menghabiskannya dengan menulis sebanyak 5.000 kata. Memang, 5.000 kata tidak sedikit untuk kita tuliskan. Akan tetapi, dengan membagi sesi menulis maka akan memudahkan kita untuk menyelesaikan 5.000 kata tersebut. Merencanakan sesi menulis Setelah membagi sesi menulis ke dalam beberapa waktu, kita harus mengetahui dan merencanakan kapan akan mengeksekusi tulisannya. Kita tidak harus selalu dan selalu menulis hingga melupakan kehidupan serta aktivitas kita sehari-hari. Hal yang terpenting adalah kita harus menyempatkan menulis di sesi yang telah ditentukan sembari menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Tidak perlu menulis sesuai urutannya Bagi sebagian penulis, menulis tidak sesuai urutannya akan membuatnya bingung. Ada banyak penulis yang tidak senang jika dirinya harus menulis secara “lompat-lompat”. Baginya, menulis “lompat-lompat” akan memunculkan penyakit writer’s block dan berakibat pada tidak nyambungnya tulisan kita dengan bagian sebelumnya. Akan tetapi, sebagian penulis menganggap bahwa menulis tidak sesuai urutannya akan membuat dirinya lebih produkif. Bagi mereka, tulislah apa yang ingin kita tulis. Jangan berpaku pada urutan bagian yang sudah direncanakan. Nah, kalau kalian tim yang mana nih? Tim yang menulis harus urut sesuai bagiannya atau tim yang menulis “lompat-lompat”? Tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan disela dengan kegiatan lain Kebanyakan penulis pemula ketika menulis pasti disambi dengan kegiatan lainnya. Tak jarang, kita sebagai penulis pemula ini selalu menulis sambil menyunting/mengedit. Ini adalah kebiasaan buruk yang membuat naskah tidak cepat selesai. Kita harus terus menulis. Tuangkan semua ide-ide cemerlang yang ada dalam pikiran kita. Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk menulis sambil menyunting naskah yang sedang kita tuliskan. Hal ini biasanya akan memunculkan writer’s block dan kita akan mudah terdistraksi oleh naskah kita yang masih “berantakan”. Memang, naskah yang pertama kali kita tuliskan tidak sempurna. Semua penulis pun ketika menuliskan naskah untuk pertama kali pasti tidak akan mencapai kata sempurna. Tetapi jangan khawatir. Kita bisa menyuntingnya ketika semua isi yang akan kita tulis di dalam naskah tersebut terselesaikan.

News

Kenalan dengan Penulis Hebat

Siapa penulis wanita favorit kalian? Pasti ada bukan? Kali ini kita akan berkenalan dengan wanita-wanita hebat yang mendobrak dunia sastra dengan karya-karyanya. Karya-karyanya memiliki ciri khas tersendiri dan dengan gamblang dituliskan. Karya-karya mereka biasanya juga dijadikan rujukan untuk sebuah tugas mata kuliah. Karena melalui karya mereka, ada banyak pengetahuan yang diketahui oleh mahasiswa, terutama mahasiswa yang tertarik dengan masa-masa sejarah 1965 dan perihal feminisme. Wanita-wanita ini di dalam karyanya membahas hal yang saat itu masih sensitif didengar oleh banyak orang. Contohnya seperti sejarah kelam G30SPKI dan kata-kata tabu perihal wanita. Siapakah mereka? Yuk kenalan! Ayu Utami Ayu Utami yang memiliki nama lengkap Justina Ayu Utami merupakan wanita yang lahir pada 21 November 1968 di kota Bogor, Jawa Barat. Ayu Utami dikenal oleh banyak orang karena novel fenomenalnya yang berjudul “Saman”. Di dalam novel tersebut, Ayu Utami dengan beraninya membicarakan masalah seks yang mana hal tersebut kala itu masih terlihat tabu untuk dibahas. Di dalam novelnya, Ayu Utami seakan mendorong para perempuan untuk lebih memahami hak-hak yang dimiliki dan kebebasannya. Ayu Utami menurut beberapa sastrawan telah membuat hal baru di dunia sastra. Melalui karyanya yang berani itu lahirlah sebuah genre baru dalam dunia sastra yaitu sastra wangi. Laksmi Pamuntjak Wanita kelahiran Jakarta, 22 Desember 1971 ini dikenal dengan karyanya yang berjudul “Amba”. Novel Amba ditulis dengan latar belakang masa kelam di tahun 1965. Laksmi Pamuntjak dengan berani menceritakan beberapa peritiwa yang kala itu terjadi di kota-kota besar mengenai G20SPKI. Novel ini juga menggambarkan pergulatan batin seorang wanita dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Melalui karyanya, Laksmi Pamuntjak telah memperkenalkan kota-kota yang ada di Indonesia kepada dunia. Karena karya-karya Laksmi Pamuntjak juga laris di pasaran internasional. Leila S Chudori Leila Salikha Chudori atau yang lebih dikenal dengan nama Leila S Chudori merupakan sosok penulis wanita yang lahir di Jakarta, 12 Desember 1962. Leila S Chudori juga merupakan sosok penulis wanita yang dengan berani menuliskan hal-hal yang tabu bagi masyarakat. Penulis yang sudah mengeluarkan karyanya dari usia 12 tahun ini, lebih dikenal lagi melalui karyanya novel “Pulang” dan “Laut Bercerita”. Leila S Chudori dianggap mampu menyajikan sebuah cerita dari rangkaian sejarah. Di dalam kedua novel tersebut melatarbelakangi peristiwa kelam di tahun 1965. Tulisannya yang disisipi kepuitisan itu mampu membuat pembaca memahami dampak yang tidak terungkap di tahun 1965.

News

4  Hal Yang Dapat Kita Pelajari Dari Penulis Cantik Satu Ini  

“saya percaya bahwa karya sastra itu seharusmya dapat menyuarakan persoalan-persoalan dalam masyarakat” Tutur seorang perempuan pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa yang dikenal sebagai Okky Madasari. Bagi penikmat sastra sudah pasti tak asing dengan nama Okky Madasari ini, pasalnya karya-karyanya selalu berbicara lantang mengenai isu-isu sosial di masyarakat. Di tengah banyaknya sastrawan yang menggandrungi karya-karya populer penuh romantisme, Okky memilih menampilkan kritik-kritik pedas terhadap isu sosial yang beredar di masyarakat. Sebut saja, korupsi, femenisme, abuse of power, dan masih banyak lagi. Sudah 9 buku telah terbit buah dari kreativitas dan sudut pandangnya terhadap permasalahan di masyarakat. Di antaranya berbicara tentang kritik atas ketidakadlian sosial yang dikemas rapi melalui rankaian kata. “Entrok” contohnya, Okky menggambarkan sosok wanita feminis dan dominan dalam tokoh Marni, di tengah era patriarkat Orde Baru yang sering membuat posisi wanita dianggap salah dan para pria selalu kuat dan benar. Ia berhasil mendobrak struktur sosial tentang bagaimana wanita biasanya digambarkan di era tersebut: lemah dan dependen. Inspirasi dan kreativitas yang selalu melekat pada karya-karya Okky Madasari tentunya tidak lahir begitu saja. Ia membutuhkan unsur lain untuk bisa terus berproses dalam menciptakan karya-karya terbaiknya. Setidaknya ada empat hal yang mungkin dapat kita pelajari dari sosok Okky Madasari di dunia tulis menulis ini. Tujuannya adalah untuk memotivasi generasi muda untuk bisa memberi perspektif baru bagi pembaca sehingga kita bisa mengubah kondisi yang ada. Empat hal tersebut di antaranya: Kritis Bicara tentang Okky Madasari rasanya kurang jika tidak menyematkan kata-kata kritis. Sudut pandangnya terhadap fenomena sosial  yang kritis membuat ia mendapatkan jutaan insight baru. Bagi Okky, sastra tak ubahnya seperti senjata melawan ketidakadilan. Bedanya, ‘senjata’ yang satu ini begitu cantik dan disampaikan secara halus, tapi menohok. Pun tak ada ketakutan dalam dirinya kala menyampaikan kritik tentang ragam isu dengan cara gamblang, tapi penuh estetika. Fokus Okky dikenal bukan hanya sebagi seorang penulis saja, ia juga dikenal sebagai wartawan dan seorang pelajar. Bahkan ia sedang menempuh pasca sarjana di UGM saat menyelesaikan novel-novelnya tersebut. Namun semua itu bukanlah halangan, karena fokus adalah prioritas. Okky berprinsip bahwa kegiatan menulis itu ibarat sebuah kebutuhan utama yang harus dipenuhi setiap hari. Dengan demikian tak heran bila Okky mampu menghabiskan separuh harinya hanya untuk menulis. Konsisten Konsistensi dalam konteks ini adalah mengelola perhatian, mengelola energi dan emosi untuk terus berjalan hingga tahap terakhir dalam penulisan sebuah novel. Melalui konsistensi tersebut, dengan sendirinya dalam hati kita akan tertanam sebuah keteguhan hati, ketetapan sikap dan memiliki posisi yang jelas dalam berbagai persoalan  di masyarakat. Membaca Memukan Inspirasi Selain menulis, Okky juga kerap mengahabiskan waktunya untuk membaca karya-karya sastra. Ia bahkan menngoleksi karya pemenang nobel sastra dari tahun ke tahun. Karena proses intens membaca karya sastra itu memberi pengaruh kuat terhadap kemampuan menulis yang dimilikinya.

Tips

Kapan Saja Waktu yang Tepat untuk Menulis Buku?

Banyak penulis yang memilih waktu malam hari hingga bahkan begadang untuk menulis buku. Akan tetapi waktu yang tepat untuk menulis buku, nyatanya bukan hanya pada malam hari saja. Banyak waktu yang dapat kita manfaatkan untuk menulis buku. Lalu, sebenarnya kapan waktu yang paling tepat untuk memulai menulis buku? Waktu paling tepat untuk menulis buku yang pertama adalah sekarang. Menurut A’a Gym, semua hal dapat dimulai dari hal yang paling kecil, dari diri sendiri, dan mulai sekarang. Sebab, jika kita menunda waktu, kita akan melupakan ide-ide kreatif yang muncul pada saat itu. Kita mungkin tidak akan menemukan lagi ide-ide tersebut untuk kedua kalinya. Oleh sebab itu, untuk menulis buku tidak perlu menunda-nunda waktu lagi. Kita dapat dengan mudah untuk memulainya dari sekarang juga. Saat kita berada di mana saja dan kapan saja. Kedua, adalah di pagi hari. Kenapa di pagi hari? Sebab di pagi hari terutama setelah bangun tidur tubuh kita dalam keadaan segar. Untuk mendapatkan waktu yang optimal, kalian bisa bangun saat sepertiga malam. Waktu tersebut merupakan waktu di mana tubuh terasa paling segar sehingga otak dapat bekerja secara maksimal. Ketiga, adalah sehabis maghrib. Waktu ini dinilai sebagai waktu kreatif yang dapat memunculkan banyak ide-ide kreatif untuk menulis buku. Keempat yakni di malam hari. Beberapa penulis lebih nyaman untuk menulis pada malam hari. Menurut mereka, malam hari merupakan waktu yang nyaman dan tenang untuk menulis. Dengan begitu, kita akan mendapatkan banyak ide-ide kreatif untuk menulis buku. Untuk mengoptimalkan waktu saat menulis, bisa juga dengan membuat jadwal kegiatan menulis sendiri. Selain mengoptimalkan waktu menulis, membuat jadwal ini juga merupakan cara untuk melatih hidup disiplin. Untuk melatih kedisiplinan dan terus berkarya menuangkan ide-ide kreatif kalian ke dalam buku, perlu menjaga komitmen terhadap jadwal yang telah dibuat tersebut. Jadi tunggu apalagi? Jangan menunda waktu untuk menuliskan ide-ide kreatifmu!

Tips

Ciri Khas dalam Penulisan Biografi

(sumber: detik.com) Penulisan biografi sering kali diidentikkan dengan penulisan karya sastra mengenai kisah hidup seseorang. Melalui hal tersebut, umumnya kita dapat mengetahui kisah hidup seseorang mulai dari awal kelahirannya hingga akhir hayatnya, apabila tokoh yang ada dalam buku tersebut sudah wafat.             Selain itu, masih banyak ciri khas lain yang sangat melekat pada penulisan buku biografi. Hal ini penting untuk diketahui agar kita tidak salah dalam membedakan buku biografi dengan buku-buku riwayat hidup lainnya. Penasaran? Langsung saja simak uraian berikut ini. Bersifat Non Fiksi                 Sudah bukan rahasia lagi apabila dalam penulisan biografi memiliki sifat non fiksi. Hal ini karena kisah-kisah yang ada di dalamnya berisikan tentang kejadian nyata sehingga tidak ada unsur imajinatif di dalamnya. Hanya saja terkadang ada beberapa penulis yang menambahkan unsur dramatisir agar cerita yang ada tampak lebih menarik. Disajikan dalam Bentuk Narasi             Pada umumnya, tulisan biografi disajikan dalam bentuk teks narasi. Alasannya karena di dalam naskah biografi memuat cerita ataupun peristiwa yang dialami seorang tokoh sehingga dipaparkan secara deskriptif. Oleh karena ini bentuk narasi akan mampu menjadikan buku biografi tersebut menjadi sebuah cerita yang enak dibaca. Bercerita Lengkap tentang Kehidupan Tokoh             Ketika seseorang menulis buku biografi artinya ia mau menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari kecil hingga mencapai titik tertentu. Perjalanannya dikemas dalam bentuk cerita yang diselipi nasihat-nasihat berharga sehingga para pembaca bisa mengambil pelajaran di dalamnya. Memiliki Struktur yang Jelas          Tulisan biografi harus memuat struktur yang jelas. Mulai dari kerangka waktu, setting tempat, suasana, semuanya harus digambarkan secara mendetail. Meskipun novel juga sering memuat alur dan suasana yang mendetail, hal ini sedikit berbeda karena naskah biografi memiliki susunan yang urut secara kronologis. Nah, itulah beberapa ciri khas dalam penulisan biografi. Apabila anda berminat untuk mulai menulis biografi, hendaknya dapat smembuat penulisan buku biografi yang benar dengan memasukkan unsur-unsur ciri khas yang telah diparparkan di atas.  

Tips

Langkah Awal Menulis Biografi yang Menarik

    (sumber : Bibliotika.com) Biografi adalah sebuah perjalanan hidup seseorang yang dikemas dalam bentuk buku dan umumnya dituliskan oleh orang lain. Keberadaannya menjadi salah satu sarana warisan peradaban yang begitu menarik untuk dilimpahkan kepada anak cucu. Hal ini karena dengan menulis biografi artinya tokoh tersebut telah mengabadikan setiap momen dalam perjalanan hidupnya.             Banyak yang mengira bahwa biografi hanya pantas ditulis oleh orang-orang yang telah memiliki pencapaian-pencapaian besar dalam hidupnya. Padahal sebenarnya siapa pun berhak untuk mengabadikan kisah kehidupannya agar kelak diketahui oleh anak cucunya ketika sudah tiada. Selain itu, dengan menulis biografi seseorang dapat membagikan value atau nilai-nilai kehidupan yang ia miliki untuk disebarkan kepada orang lain.            Mulailah dari langkah awal. Langkah awal dalam menyusun teks biografi adalah menentukan tokoh yang akan ditulis dalam biografi. Langkah awal ini sangat penting dilakukan sebelum Anda mulai menulis naskah. Tokoh yang diambil tentunya orang-orang dengan kontribusi besar bagi lingkungannya sehingga ada banyak cerita yang bisa ditorehkan pada naskahnya.          Oleh sebab itu, hal pertama yang harus mempertimbangkan adalah eksistensi dan pengaruh tokoh tersebut sehingga langkah-langkah membuat biografi selanjutnya akan mudah dilakukan. Semakin eksis dan berpengaruh tokoh yang akan Anda tulis, maka akan semakin mudah Anda menuliskan serangkaian perjalanan hidupnya. Selain itu, juga akan sangat mudah bagi Anda untuk mendapatkan royalti. Sebab masyarakat telah mengenal tokoh yang Anda tulis sehingga secara tidak langsung telah menciptakan target pasar.         Setelah menyelesaikan langkah awal, selanjutnya perlu melakukan riset secara mendalam. Tentu sebagai penulis yang profesional, Anda harus menggali kehidupan tokoh secara mendetail, baik itu dari tokohnya langsung atau bisa jadi mendapat informasi dari orang-orang terdekat tokoh. Lakukan wawancara secara secara keseluruhan dengan membuat daftar pertanyaan yang nantinya ingin diangkat dalam penulisan naskahnya.          Setelah semua data terkumpul, akan mudah membuat outline atau susunan bukunya. Sembari menulis naskah yang apabila ada bahan belum lengkap bisa ditanyakan ketika melangsungkan wawancara kembali. Jadi tunggu apalagi, tidak perlu mempersulit diri. Mulailah menulis biografi dengan mengikuti langkah-langkah membuat biografi seperti yang sudah kita pelajari. Lalu tunjukkan karyamu pada dunia!

Scroll to Top