#penulis

News

9 Bulan #dirumahaja, Sudah Produktifkah Kita?

Siapa yang menyangka akan merasakan “kelumpuhan” seperti ini. Adanya pandemi covid-19 yang menyerang Indonesia sejak awal tahun 2020 membuat kita harus berdiam diri di rumah. Kita diminta untuk mengurangi segala aktivitas di luar rumah guna menghentikan penyebaran virus yang merebak. Kita juga diminta untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Semula kita mengira bahwa pandemi ini akan berakhir dalam waktu yang tidak lama. Tak disangka, ternyata pandemi ini membuat kita harus “mengisolasi” diri kita hampir satu tahun lamanya. Ketika diinfokan untuk berdiam diri di rumah dan melakukan segala aktivitas dari rumah, euforia masyarakat Indonesia terlihat begitu antusias. Masyarakat Indonesia merasa “merdeka” dari seluruh hiruk pikuk yang dirasakan setiap harinya. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia terlihat ogah-ogahan bahkan muak dalam menjalani hari yang apa-apa serba online dan hanya bisa dilakukan di rumah saja. Mengapa rasa muak ini bisa terjadi? Coba kita tengok kembali, selama 9 bulan #dirumahaja apakah kita sudah produktif? Apa yang sudah kita kerjakan selama 9 bulan ini? Apakah kita hanya rebahan sambil membuka sosial media selama satu hari penuh? Atau kita sudah melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk mengusir kebosanan yang melanda selama 9 bulan #dirumahaja? Kalau kita merasa muak, berarti selama ini kita menjalani hari dengan bermalas-malasan saja. Kita merasa hidup ini terlalu monoton. Padahal kalau kita ingin menjadi lebih produktif selama di rumah, kita bisa mengikuti berbagai macam workshop atau kelas-kelas pelatihan yang diadakan secara online baik di media sosial maupun di grup perpesanan instan seperti WhatsApp, Line, Telegram, dan sebagainya. Salah satu kelas pelatihan yang bisa kita ikuti yakni kelas menulis. Kelas menulis ini bisa diikuti oleh siapa pun terutama bagi kita yang ingin menjadi seorang penulis. Mengikuti kelas menulis di kala pandemi ini sangat bagus untuk mengusir kejenuhan kita selama di rumah. Dengan mengikuti kelas menulis, kita bisa mengasah kemampuan menulis yang kita miliki loh. Tidak hanya itu saja, kita juga akan mendapatkan ilmu-ilmu baru mengenai kepenulisan. Bahkan, tidak jarang ada instansi yang menyelenggarakan kelas menulis “berhadiah”. Para penyelenggara biasanya akan memberikan fasilitas untuk menerbitkan tulisan yang selesai kita tuliskan selama kelas menulis diadakan. Biasanya, para penyelenggara akan memberikan tenggat waktu untuk setiap karya yang ditulis. Misalkan hari ini pihak menyelenggara akan memberikan materi mengenai menulis kalimat efektif kemudian mereka meminta kita untuk membuat cerita yang mengandung kalimat efektif di dalamnya sesuai dengan materi yang telah diberi sebelumnya. Nah, biasanya pihak penyelenggara akan memberikan tenggat waktu untuk setiap penugasan. Setiap penugasan ini tentunya akan menguji kualitas pemahaman dan tulisan kita setelah menghadiri kelas pada hari itu. Kita dapat menilai diri kita apakah kita benar-benar memahami materi yang disampaikan atau kita hanya mendengarkannya saja sambil lalu tanpa ada sedikit pun materi yang nyantol di otak. Dari sini kita bisa melihat bahwa dengan mengikuti kelas-kelas pelatihan online baik itu kelas pelatihan menulis, kelas pelatihan menjahit, kelas pelatihan bisnis, maupun kelas pelatihan lainnya selama masa pandemi benar-benar membuat kita produktif. Selain disibukkan dengan berbagai pekerjaan maupun tugas yang dilakukan selama #dirumahaja, kita juga harus mencari kesibukan lain agar kita lebih terampil dan menghabiskan waktu dengan lebih bermanfaat.

News

Punya Kebiasaan Aneh Saat Menulis? Wajar Nggak Sih?

Ketika sedang menulis sebuah karya, tanpa disadari kita sering memiliki kebiasaan yang mungkin bagi orang lain terkesan aneh bahkan cringe. Kebiasaan ini sering dianggap aneh karena tidak semua orang melakukannya. Bahkan bisa jadi kebiasaan itu hanya kita saja yang melakukannya. Nah, kalau sudah seperti ini sering timbul pertanyaan “Wajar nggak sih aku punya kebiasaan aneh setiap kali menulis?”. Jawabannya adalah wajar. Kok bisa? Iya, sebab setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya termasuk menulis. Kita tidak perlu sedih karena diri kita dianggap “aneh” karena kebiasaan yang kita miliki. Banyak penulis bahkan penulis yang namanya sudah melambung juga memiliki kebiasaan yang aneh kok. Siapa saja sih mereka dan apa kebiasaan aneh yang mereka lakukan? Friedrich Schiller Johann Christoph Friedrich von Schiller, penyair dan penulis naskah drama asal Jerman yang lahir pada 10 November 1759 ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di malam hari. Jika harus bekerja di pagi atau siang hari, beliau selalu menutup ruangannya dengan tirai berwarna merah untuk menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menerangi ruang kerjanya. Ketika beliau merasa bosan maka beliau akan membenamkan kakinya ke dalam air dingin agar dirinya tetap terjaga. Selain kebiasaan tersebut, Schiller memiliki kebiasaan aneh lainnya dan cukup mencengangkan. Beliau senang menyimpan apel busuk di dalam lacinya. Menurut istrinya, beliau tidak akan bisa bekerja jika tidak mencium aroma busuk. Wah, aneh juga ya? Kebanyakan orang akan terganggu jika mencium aroma busuk, tapi beliau justru terlihat begitu mencintainya. Agatha Christie Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau kita lebih mengenalnya dengan Agatha Christie ini memiliki kebiasaan aneh juga dalam menulis. Penulis fiksi kriminal asal Inggris ini sempat memiliki permintaan khusus untuk kamar mandinya. Kok kamar mandi sih? Iya. Baginya, bak mandi adalah ruang kerja utamanya. Beliau bisa menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun plot yang rumit sembari berendam di air hangat dan menikmati apel. Keren ya? Mungkin kalau kita berendam di air hangat hingga terasa rileks seluruh tubuh akan tertidur hihihi. Collete Sidonie-Gabrielle Collete yang dilahirkan pada tahun 1873 ini memiliki kebiasaan aneh saat menulis yang membuat suaminya geleng-geleng kepala. Pasalnya, novelis “gila” asal Prancis ini memiliki ritual khusus. Beliau harus menemukan kutu di anjing peliharaannya sebelum memulai untuk menulis. Edgar Allan Poe Kalau Collete memiliki kebiasaan aneh dengan anjingnya, berbeda dengan Edgar Allan Poe atau yang lebih dikenal dengan nama Poe. Penulis, penyair, editor, sekaligus kritikus sastra asal negeri Paman Sam ini memiliki kebiasaan aneh dengan kucingnya yang diberi nama Catterina. Saat menulis, Poe selalu ditemani oleh Catterina yang setia “bertengger” di pundaknya. Baginya, dengan ada Catterina di sisinya maka beliau akan selalu merasa diawasi. Lucu juga ya hehe. Victor Hugo Penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan terkenal sebagai salah satu penyair terbesar di Prancis ternyata juga memiliki kebiasaan aneh saat menulis. Penulis “Les Miserables” ini selalu mengurung dirinya di dalam rumah agar tetap produktif. Tidak hanya itu saja, beliau bahkan rela menyimpan seluruh pakaiannya rapat-rapat dalam lemari agar dirinya dapat berpikir bahwa tidak akan keluar rumah jika tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dikenakan. Kebiasaan ini bisa kita tiru, loh karena keluar rumah hanya untuk bersenang-senang dapat membuang-buang waktu dan membuat karya kita tidak akan cepat selesai.

News

Kenalan dengan Penulis Hebat

Siapa penulis wanita favorit kalian? Pasti ada bukan? Kali ini kita akan berkenalan dengan wanita-wanita hebat yang mendobrak dunia sastra dengan karya-karyanya. Karya-karyanya memiliki ciri khas tersendiri dan dengan gamblang dituliskan. Karya-karya mereka biasanya juga dijadikan rujukan untuk sebuah tugas mata kuliah. Karena melalui karya mereka, ada banyak pengetahuan yang diketahui oleh mahasiswa, terutama mahasiswa yang tertarik dengan masa-masa sejarah 1965 dan perihal feminisme. Wanita-wanita ini di dalam karyanya membahas hal yang saat itu masih sensitif didengar oleh banyak orang. Contohnya seperti sejarah kelam G30SPKI dan kata-kata tabu perihal wanita. Siapakah mereka? Yuk kenalan! Ayu Utami Ayu Utami yang memiliki nama lengkap Justina Ayu Utami merupakan wanita yang lahir pada 21 November 1968 di kota Bogor, Jawa Barat. Ayu Utami dikenal oleh banyak orang karena novel fenomenalnya yang berjudul “Saman”. Di dalam novel tersebut, Ayu Utami dengan beraninya membicarakan masalah seks yang mana hal tersebut kala itu masih terlihat tabu untuk dibahas. Di dalam novelnya, Ayu Utami seakan mendorong para perempuan untuk lebih memahami hak-hak yang dimiliki dan kebebasannya. Ayu Utami menurut beberapa sastrawan telah membuat hal baru di dunia sastra. Melalui karyanya yang berani itu lahirlah sebuah genre baru dalam dunia sastra yaitu sastra wangi. Laksmi Pamuntjak Wanita kelahiran Jakarta, 22 Desember 1971 ini dikenal dengan karyanya yang berjudul “Amba”. Novel Amba ditulis dengan latar belakang masa kelam di tahun 1965. Laksmi Pamuntjak dengan berani menceritakan beberapa peritiwa yang kala itu terjadi di kota-kota besar mengenai G20SPKI. Novel ini juga menggambarkan pergulatan batin seorang wanita dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Melalui karyanya, Laksmi Pamuntjak telah memperkenalkan kota-kota yang ada di Indonesia kepada dunia. Karena karya-karya Laksmi Pamuntjak juga laris di pasaran internasional. Leila S Chudori Leila Salikha Chudori atau yang lebih dikenal dengan nama Leila S Chudori merupakan sosok penulis wanita yang lahir di Jakarta, 12 Desember 1962. Leila S Chudori juga merupakan sosok penulis wanita yang dengan berani menuliskan hal-hal yang tabu bagi masyarakat. Penulis yang sudah mengeluarkan karyanya dari usia 12 tahun ini, lebih dikenal lagi melalui karyanya novel “Pulang” dan “Laut Bercerita”. Leila S Chudori dianggap mampu menyajikan sebuah cerita dari rangkaian sejarah. Di dalam kedua novel tersebut melatarbelakangi peristiwa kelam di tahun 1965. Tulisannya yang disisipi kepuitisan itu mampu membuat pembaca memahami dampak yang tidak terungkap di tahun 1965.

Tips

Bagaimana Agar Karya Mudah Diterima Pembaca?

(sumber : JawaPos.com) Bakat yang dimiliki seseorang tentu berbeda-beda. Ada yang memiliki bakat melukis, menyanyi, memasak, atau bahkan menulis. Berbicara mengenai bakat menulis, Anda sebenarnya tidak perlu berangkat dari bakat. Sebab syarat menjadi penulis buku hanya membutuhkan latihan dan kesungguhan. Segala sesuatu pastinya memiliki tahapan yang harus ditempuh untuk memperoleh hasil maksimal, begitu juga dalam menulis buku. Terdapat beberapa tahapan yang harus ditempuh agar menghasilkan karya hebat. Untuk lebih jelasnya, mari sama-sama belajar dalam beberapa langkah berikut. Membuat Outline             Outline atau susunan buku merupakan bagian penting yang harus dipersiapkan sebelum memulai menulis. Susunan ini berisikan bagian-bagian yang nantinya akan menjadi kerangka tulisan. Penulis bisa memploting bagian tiap bagian berdasarkan materi yang ingin diangkat dengan mengelompokkannya menjadi suatu kategori tertentu, atau yang disebut bab. Menulis Hal yang Dikuasai Cara membuat buku agar mudah diterima pembaca adalah dengan menuliskan hal-hal yang dikuasai. Bayangkan ketika Anda adalah orang dengan keahlian di bidang kesehatan tetapi menulis sesuatu tentang masalah keuangan. Hal ini tentu kurang relevan karena Anda tidak akan bisa membahas bidang tersebut secara mendalam. Riset Bahan Setelah mengetahui topik yang ingin diangkat dan Anda memang menguasainya, selanjutnya pastikan untuk melakukan riset bahan secara mendalam. Riset bahan ini akan sangat membantu memperluas materi yang Anda bahas, apalagi pembaca hari ini menyukai suatu pembahasan yang singkat tetapi dikupas secara mendalam. Gaya Bahasa             Gaya penulisan sebuah buku dapat mempengaruhi minat pembaca untuk membeli buku tersebut. Cara menentukan gaya bahasa bisa dilihat dari target pembacanya. Misalnya target pembaca yang disasar adalah kalangan milenial, maka gaya bahasa yang digunakan harus ramah dengan dunia mereka. Sebenarnya di sinilah kunci menarik tidaknya sebuah tulisan karena ketika gaya bahasa yang digunakan salah, artinya kita tidak bisa menyasar target pembaca kita. Nah itulah beberapa cara membuat buku yang perlu Anda perhatikan sebelum menerbitkan sebuah karya. Perlu diingat bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa diselesaikan.

News

Serupa Tapi Tak Sama, Inilah Perbedaan Biografi dan Autobiografi

Sekilas karya sastra biografi memang hampir sama dengan karya sastra autobiografi. Nyatanya, menulis karya sastra biografi sangat berbeda dengan menulis autobiografi. Perbedaan dari kedua teks tersebut memang tidak terlalu mencolok, terlebih apabila kita tidak memperhatikannya dengan detail. Namun tenang saja, berikut beberapa perbedaan biografi dan autobiografi yang perlu diketahui. Arti yang Tidak Sama Pertama-tama, kita akan membahas pengertian dari biografi terlebih dahulu. Biografi adalah kisah dari seorang tokoh yang dituliskan oleh orang lain sehingga bukan ditulis oleh tokoh yang ada dalam buku tersebut sendiri. Contoh penulisan biografi yang terkenal misalnya buku berjudul “Gus Dur” yang ditulis oleh Greg Barton. Sementara autobiografi adalah sebuah karya tulis yang memuat riwayat hidup seorang tokoh dan ditulis oleh tokohnya sendiri. Misalnya saja buku autobiografi yang terkenal adalah “Mein Kampf” yang ditulis sendiri oleh Adolf Hitler. Detail yang Berbeda             Baik karya sastra biografi maupun autobiografi, umumnya memang berisikan riwayat hidup seseorang secara mendetail, mulai dari awal hingga kehidupannya. Namun, jika diperhatikan lagi, terdapat perbedaan di antara keduanya. Acap kali dalam karya biografi memuat kisah tentang latar belakang kelahiran sang tokoh, pendidikan, keluarga, dan pemikirannya yang tidak diceritakan secara mendetail. Berbeda dengan autobiografi yang membahas semua hal tersebut secara mendetail, bahkan mirip seperti buku diary karena memang ditulis oleh tokoh yang bersangkutan. Contoh penulisan biografi dari R.A. Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul ”Panggil Aku Kartini Saja” misalnya, sangat berbeda dengan buku autobiografi yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebab buku tersebut diterbitkan J.H. Abendanon berdasarkan surat-surat yang ditulis sendiri oleh R.A. Kartini. Sudut Pandang dan Gaya Bahasa yang Berbeda Perbedaan lain yang mencolok dalam kedua karya sastra ini terletak pada sudut pandang dan gaya bahasanya. Dalam biografi menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena dituliskan oleh orang lain. Sementara dalam autobiografi, menggunakan sudut pandang orang pertama karena ditulis oleh dirinya sendiri. Dari segi gaya bahasa, umumnya lebih menonjol buku autobiografi karena murni ditulis oleh tokoh aslinya sehingga pembaca seakan-akan berbicara langsung dengan tokoh tersebut. Meski begitu, banyak juga buku biografi yang gaya bahasanya disesuaikan dengan tokoh yang bersangkutan. Serupa tetapi tak sama. Setelah mempelajari perbedaan serta contoh penulisan biografi dan autobiografi, pastinya kita akan lebih memahami karakteristik dari keduanya. Jadi jangan sampai tertukar lagi untuk menyebutnya ya!

Tips

Bagaimana Agar Karya Mudah Diterima Pembaca?

(sumber : JawaPos.com) Bakat yang dimiliki seseorang tentu berbeda-beda. Ada yang memiliki bakat melukis, menyanyi, memasak, atau bahkan menulis. Berbicara mengenai bakat menulis, Anda sebenarnya tidak perlu berangkat dari bakat. Sebab syarat menjadi penulis buku hanya membutuhkan latihan dan kesungguhan. Segala sesuatu pastinya memiliki tahapan yang harus ditempuh untuk memperoleh hasil maksimal, begitu juga dalam menulis buku. Terdapat beberapa tahapan yang harus ditempuh agar menghasilkan karya hebat. Untuk lebih jelasnya, mari sama-sama belajar dalam beberapa langkah berikut. Membuat Outline             Outline atau susunan buku merupakan bagian penting yang harus dipersiapkan sebelum memulai menulis. Susunan ini berisikan bagian-bagian yang nantinya akan menjadi kerangka tulisan. Penulis bisa memploting bagian tiap bagian berdasarkan materi yang ingin diangkat dengan mengelompokkannya menjadi suatu kategori tertentu, atau yang disebut bab. Menulis Hal yang Dikuasai Cara membuat buku agar mudah diterima pembaca adalah dengan menuliskan hal-hal yang dikuasai. Bayangkan ketika Anda adalah orang dengan keahlian di bidang kesehatan tetapi menulis sesuatu tentang masalah keuangan. Hal ini tentu kurang relevan karena Anda tidak akan bisa membahas bidang tersebut secara mendalam. Riset Bahan Setelah mengetahui topik yang ingin diangkat dan Anda memang menguasainya, selanjutnya pastikan untuk melakukan riset bahan secara mendalam. Riset bahan ini akan sangat membantu memperluas materi yang Anda bahas, apalagi pembaca hari ini menyukai suatu pembahasan yang singkat tetapi dikupas secara mendalam. Gaya Bahasa             Gaya penulisan sebuah buku dapat mempengaruhi minat pembaca untuk membeli buku tersebut. Cara menentukan gaya bahasa bisa dilihat dari target pembacanya. Misalnya target pembaca yang disasar adalah kalangan milenial, maka gaya bahasa yang digunakan harus ramah dengan dunia mereka. Sebenarnya di sinilah kunci menarik tidaknya sebuah tulisan karena ketika gaya bahasa yang digunakan salah, artinya kita tidak bisa menyasar target pembaca kita. Nah itulah beberapa cara membuat buku yang perlu Anda perhatikan sebelum menerbitkan sebuah karya. Perlu diingat bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa diselesaikan.

News

Serupa Tapi Tak Sama, Inilah Perbedaan Biografi dan Autobiografi

Sekilas karya sastra biografi memang hampir sama dengan karya sastra autobiografi. Nyatanya, menulis karya sastra biografi sangat berbeda dengan menulis autobiografi. Perbedaan dari kedua teks tersebut memang tidak terlalu mencolok, terlebih apabila kita tidak memperhatikannya dengan detail. Namun tenang saja, berikut beberapa perbedaan biografi dan autobiografi yang perlu diketahui. Arti yang Tidak Sama Pertama-tama, kita akan membahas pengertian dari biografi terlebih dahulu. Biografi adalah kisah dari seorang tokoh yang dituliskan oleh orang lain sehingga bukan ditulis oleh tokoh yang ada dalam buku tersebut sendiri. Contoh penulisan biografi yang terkenal misalnya buku berjudul “Gus Dur” yang ditulis oleh Greg Barton. Sementara autobiografi adalah sebuah karya tulis yang memuat riwayat hidup seorang tokoh dan ditulis oleh tokohnya sendiri. Misalnya saja buku autobiografi yang terkenal adalah “Mein Kampf” yang ditulis sendiri oleh Adolf Hitler. Detail yang Berbeda             Baik karya sastra biografi maupun autobiografi, umumnya memang berisikan riwayat hidup seseorang secara mendetail, mulai dari awal hingga kehidupannya. Namun, jika diperhatikan lagi, terdapat perbedaan di antara keduanya. Acap kali dalam karya biografi memuat kisah tentang latar belakang kelahiran sang tokoh, pendidikan, keluarga, dan pemikirannya yang tidak diceritakan secara mendetail. Berbeda dengan autobiografi yang membahas semua hal tersebut secara mendetail, bahkan mirip seperti buku diary karena memang ditulis oleh tokoh yang bersangkutan. Contoh penulisan biografi dari R.A. Kartini yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dengan judul ”Panggil Aku Kartini Saja” misalnya, sangat berbeda dengan buku autobiografi yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Sebab buku tersebut diterbitkan J.H. Abendanon berdasarkan surat-surat yang ditulis sendiri oleh R.A. Kartini. Sudut Pandang dan Gaya Bahasa yang Berbeda Perbedaan lain yang mencolok dalam kedua karya sastra ini terletak pada sudut pandang dan gaya bahasanya. Dalam biografi menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena dituliskan oleh orang lain. Sementara dalam autobiografi, menggunakan sudut pandang orang pertama karena ditulis oleh dirinya sendiri. Dari segi gaya bahasa, umumnya lebih menonjol buku autobiografi karena murni ditulis oleh tokoh aslinya sehingga pembaca seakan-akan berbicara langsung dengan tokoh tersebut. Meski begitu, banyak juga buku biografi yang gaya bahasanya disesuaikan dengan tokoh yang bersangkutan. Serupa tetapi tak sama. Setelah mempelajari perbedaan serta contoh penulisan biografi dan autobiografi, pastinya kita akan lebih memahami karakteristik dari keduanya. Jadi jangan sampai tertukar lagi untuk menyebutnya ya!

News

9 Bulan #dirumahaja, Sudah Produktifkah Kita?

Siapa yang menyangka akan merasakan “kelumpuhan” seperti ini. Adanya pandemi covid-19 yang menyerang Indonesia sejak awal tahun 2020 membuat kita harus berdiam diri di rumah. Kita diminta untuk mengurangi segala aktivitas di luar rumah guna menghentikan penyebaran virus yang merebak. Kita juga diminta untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh. Semula kita mengira bahwa pandemi ini akan berakhir dalam waktu yang tidak lama. Tak disangka, ternyata pandemi ini membuat kita harus “mengisolasi” diri kita hampir satu tahun lamanya. Ketika diinfokan untuk berdiam diri di rumah dan melakukan segala aktivitas dari rumah, euforia masyarakat Indonesia terlihat begitu antusias. Masyarakat Indonesia merasa “merdeka” dari seluruh hiruk pikuk yang dirasakan setiap harinya. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat Indonesia terlihat ogah-ogahan bahkan muak dalam menjalani hari yang apa-apa serba online dan hanya bisa dilakukan di rumah saja. Mengapa rasa muak ini bisa terjadi? Coba kita tengok kembali, selama 9 bulan #dirumahaja apakah kita sudah produktif? Apa yang sudah kita kerjakan selama 9 bulan ini? Apakah kita hanya rebahan sambil membuka sosial media selama satu hari penuh? Atau kita sudah melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk mengusir kebosanan yang melanda selama 9 bulan #dirumahaja? Kalau kita merasa muak, berarti selama ini kita menjalani hari dengan bermalas-malasan saja. Kita merasa hidup ini terlalu monoton. Padahal kalau kita ingin menjadi lebih produktif selama di rumah, kita bisa mengikuti berbagai macam workshop atau kelas-kelas pelatihan yang diadakan secara online baik di media sosial maupun di grup perpesanan instan seperti WhatsApp, Line, Telegram, dan sebagainya. Salah satu kelas pelatihan yang bisa kita ikuti yakni kelas menulis. Kelas menulis ini bisa diikuti oleh siapa pun terutama bagi kita yang ingin menjadi seorang penulis. Mengikuti kelas menulis di kala pandemi ini sangat bagus untuk mengusir kejenuhan kita selama di rumah. Dengan mengikuti kelas menulis, kita bisa mengasah kemampuan menulis yang kita miliki loh. Tidak hanya itu saja, kita juga akan mendapatkan ilmu-ilmu baru mengenai kepenulisan. Bahkan, tidak jarang ada instansi yang menyelenggarakan kelas menulis “berhadiah”. Para penyelenggara biasanya akan memberikan fasilitas untuk menerbitkan tulisan yang selesai kita tuliskan selama kelas menulis diadakan. Biasanya, para penyelenggara akan memberikan tenggat waktu untuk setiap karya yang ditulis. Misalkan hari ini pihak menyelenggara akan memberikan materi mengenai menulis kalimat efektif kemudian mereka meminta kita untuk membuat cerita yang mengandung kalimat efektif di dalamnya sesuai dengan materi yang telah diberi sebelumnya. Nah, biasanya pihak penyelenggara akan memberikan tenggat waktu untuk setiap penugasan. Setiap penugasan ini tentunya akan menguji kualitas pemahaman dan tulisan kita setelah menghadiri kelas pada hari itu. Kita dapat menilai diri kita apakah kita benar-benar memahami materi yang disampaikan atau kita hanya mendengarkannya saja sambil lalu tanpa ada sedikit pun materi yang nyantol di otak. Dari sini kita bisa melihat bahwa dengan mengikuti kelas-kelas pelatihan online baik itu kelas pelatihan menulis, kelas pelatihan menjahit, kelas pelatihan bisnis, maupun kelas pelatihan lainnya selama masa pandemi benar-benar membuat kita produktif. Selain disibukkan dengan berbagai pekerjaan maupun tugas yang dilakukan selama #dirumahaja, kita juga harus mencari kesibukan lain agar kita lebih terampil dan menghabiskan waktu dengan lebih bermanfaat.

News

Punya Kebiasaan Aneh Saat Menulis? Wajar Nggak Sih?

Ketika sedang menulis sebuah karya, tanpa disadari kita sering memiliki kebiasaan yang mungkin bagi orang lain terkesan aneh bahkan cringe. Kebiasaan ini sering dianggap aneh karena tidak semua orang melakukannya. Bahkan bisa jadi kebiasaan itu hanya kita saja yang melakukannya. Nah, kalau sudah seperti ini sering timbul pertanyaan “Wajar nggak sih aku punya kebiasaan aneh setiap kali menulis?”. Jawabannya adalah wajar. Kok bisa? Iya, sebab setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya termasuk menulis. Kita tidak perlu sedih karena diri kita dianggap “aneh” karena kebiasaan yang kita miliki. Banyak penulis bahkan penulis yang namanya sudah melambung juga memiliki kebiasaan yang aneh kok. Siapa saja sih mereka dan apa kebiasaan aneh yang mereka lakukan? Friedrich Schiller Johann Christoph Friedrich von Schiller, penyair dan penulis naskah drama asal Jerman yang lahir pada 10 November 1759 ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di malam hari. Jika harus bekerja di pagi atau siang hari, beliau selalu menutup ruangannya dengan tirai berwarna merah untuk menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menerangi ruang kerjanya. Ketika beliau merasa bosan maka beliau akan membenamkan kakinya ke dalam air dingin agar dirinya tetap terjaga. Selain kebiasaan tersebut, Schiller memiliki kebiasaan aneh lainnya dan cukup mencengangkan. Beliau senang menyimpan apel busuk di dalam lacinya. Menurut istrinya, beliau tidak akan bisa bekerja jika tidak mencium aroma busuk. Wah, aneh juga ya? Kebanyakan orang akan terganggu jika mencium aroma busuk, tapi beliau justru terlihat begitu mencintainya. Agatha Christie Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau kita lebih mengenalnya dengan Agatha Christie ini memiliki kebiasaan aneh juga dalam menulis. Penulis fiksi kriminal asal Inggris ini sempat memiliki permintaan khusus untuk kamar mandinya. Kok kamar mandi sih? Iya. Baginya, bak mandi adalah ruang kerja utamanya. Beliau bisa menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun plot yang rumit sembari berendam di air hangat dan menikmati apel. Keren ya? Mungkin kalau kita berendam di air hangat hingga terasa rileks seluruh tubuh akan tertidur hihihi. Collete Sidonie-Gabrielle Collete yang dilahirkan pada tahun 1873 ini memiliki kebiasaan aneh saat menulis yang membuat suaminya geleng-geleng kepala. Pasalnya, novelis “gila” asal Prancis ini memiliki ritual khusus. Beliau harus menemukan kutu di anjing peliharaannya sebelum memulai untuk menulis. Edgar Allan Poe Kalau Collete memiliki kebiasaan aneh dengan anjingnya, berbeda dengan Edgar Allan Poe atau yang lebih dikenal dengan nama Poe. Penulis, penyair, editor, sekaligus kritikus sastra asal negeri Paman Sam ini memiliki kebiasaan aneh dengan kucingnya yang diberi nama Catterina. Saat menulis, Poe selalu ditemani oleh Catterina yang setia “bertengger” di pundaknya. Baginya, dengan ada Catterina di sisinya maka beliau akan selalu merasa diawasi. Lucu juga ya hehe. Victor Hugo Penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan terkenal sebagai salah satu penyair terbesar di Prancis ternyata juga memiliki kebiasaan aneh saat menulis. Penulis “Les Miserables” ini selalu mengurung dirinya di dalam rumah agar tetap produktif. Tidak hanya itu saja, beliau bahkan rela menyimpan seluruh pakaiannya rapat-rapat dalam lemari agar dirinya dapat berpikir bahwa tidak akan keluar rumah jika tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dikenakan. Kebiasaan ini bisa kita tiru, loh karena keluar rumah hanya untuk bersenang-senang dapat membuang-buang waktu dan membuat karya kita tidak akan cepat selesai.

News

Kenalan dengan Penulis Hebat

Siapa penulis wanita favorit kalian? Pasti ada bukan? Kali ini kita akan berkenalan dengan wanita-wanita hebat yang mendobrak dunia sastra dengan karya-karyanya. Karya-karyanya memiliki ciri khas tersendiri dan dengan gamblang dituliskan. Karya-karya mereka biasanya juga dijadikan rujukan untuk sebuah tugas mata kuliah. Karena melalui karya mereka, ada banyak pengetahuan yang diketahui oleh mahasiswa, terutama mahasiswa yang tertarik dengan masa-masa sejarah 1965 dan perihal feminisme. Wanita-wanita ini di dalam karyanya membahas hal yang saat itu masih sensitif didengar oleh banyak orang. Contohnya seperti sejarah kelam G30SPKI dan kata-kata tabu perihal wanita. Siapakah mereka? Yuk kenalan! Ayu Utami Ayu Utami yang memiliki nama lengkap Justina Ayu Utami merupakan wanita yang lahir pada 21 November 1968 di kota Bogor, Jawa Barat. Ayu Utami dikenal oleh banyak orang karena novel fenomenalnya yang berjudul “Saman”. Di dalam novel tersebut, Ayu Utami dengan beraninya membicarakan masalah seks yang mana hal tersebut kala itu masih terlihat tabu untuk dibahas. Di dalam novelnya, Ayu Utami seakan mendorong para perempuan untuk lebih memahami hak-hak yang dimiliki dan kebebasannya. Ayu Utami menurut beberapa sastrawan telah membuat hal baru di dunia sastra. Melalui karyanya yang berani itu lahirlah sebuah genre baru dalam dunia sastra yaitu sastra wangi. Laksmi Pamuntjak Wanita kelahiran Jakarta, 22 Desember 1971 ini dikenal dengan karyanya yang berjudul “Amba”. Novel Amba ditulis dengan latar belakang masa kelam di tahun 1965. Laksmi Pamuntjak dengan berani menceritakan beberapa peritiwa yang kala itu terjadi di kota-kota besar mengenai G20SPKI. Novel ini juga menggambarkan pergulatan batin seorang wanita dengan norma-norma yang ada di masyarakat. Melalui karyanya, Laksmi Pamuntjak telah memperkenalkan kota-kota yang ada di Indonesia kepada dunia. Karena karya-karya Laksmi Pamuntjak juga laris di pasaran internasional. Leila S Chudori Leila Salikha Chudori atau yang lebih dikenal dengan nama Leila S Chudori merupakan sosok penulis wanita yang lahir di Jakarta, 12 Desember 1962. Leila S Chudori juga merupakan sosok penulis wanita yang dengan berani menuliskan hal-hal yang tabu bagi masyarakat. Penulis yang sudah mengeluarkan karyanya dari usia 12 tahun ini, lebih dikenal lagi melalui karyanya novel “Pulang” dan “Laut Bercerita”. Leila S Chudori dianggap mampu menyajikan sebuah cerita dari rangkaian sejarah. Di dalam kedua novel tersebut melatarbelakangi peristiwa kelam di tahun 1965. Tulisannya yang disisipi kepuitisan itu mampu membuat pembaca memahami dampak yang tidak terungkap di tahun 1965.

Scroll to Top