#tips

News

Punya Kebiasaan Aneh Saat Menulis? Wajar Nggak Sih?

Ketika sedang menulis sebuah karya, tanpa disadari kita sering memiliki kebiasaan yang mungkin bagi orang lain terkesan aneh bahkan cringe. Kebiasaan ini sering dianggap aneh karena tidak semua orang melakukannya. Bahkan bisa jadi kebiasaan itu hanya kita saja yang melakukannya. Nah, kalau sudah seperti ini sering timbul pertanyaan “Wajar nggak sih aku punya kebiasaan aneh setiap kali menulis?”. Jawabannya adalah wajar. Kok bisa? Iya, sebab setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya termasuk menulis. Kita tidak perlu sedih karena diri kita dianggap “aneh” karena kebiasaan yang kita miliki. Banyak penulis bahkan penulis yang namanya sudah melambung juga memiliki kebiasaan yang aneh kok. Siapa saja sih mereka dan apa kebiasaan aneh yang mereka lakukan? Friedrich Schiller Johann Christoph Friedrich von Schiller, penyair dan penulis naskah drama asal Jerman yang lahir pada 10 November 1759 ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di malam hari. Jika harus bekerja di pagi atau siang hari, beliau selalu menutup ruangannya dengan tirai berwarna merah untuk menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menerangi ruang kerjanya. Ketika beliau merasa bosan maka beliau akan membenamkan kakinya ke dalam air dingin agar dirinya tetap terjaga. Selain kebiasaan tersebut, Schiller memiliki kebiasaan aneh lainnya dan cukup mencengangkan. Beliau senang menyimpan apel busuk di dalam lacinya. Menurut istrinya, beliau tidak akan bisa bekerja jika tidak mencium aroma busuk. Wah, aneh juga ya? Kebanyakan orang akan terganggu jika mencium aroma busuk, tapi beliau justru terlihat begitu mencintainya. Agatha Christie Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau kita lebih mengenalnya dengan Agatha Christie ini memiliki kebiasaan aneh juga dalam menulis. Penulis fiksi kriminal asal Inggris ini sempat memiliki permintaan khusus untuk kamar mandinya. Kok kamar mandi sih? Iya. Baginya, bak mandi adalah ruang kerja utamanya. Beliau bisa menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun plot yang rumit sembari berendam di air hangat dan menikmati apel. Keren ya? Mungkin kalau kita berendam di air hangat hingga terasa rileks seluruh tubuh akan tertidur hihihi. Collete Sidonie-Gabrielle Collete yang dilahirkan pada tahun 1873 ini memiliki kebiasaan aneh saat menulis yang membuat suaminya geleng-geleng kepala. Pasalnya, novelis “gila” asal Prancis ini memiliki ritual khusus. Beliau harus menemukan kutu di anjing peliharaannya sebelum memulai untuk menulis. Edgar Allan Poe Kalau Collete memiliki kebiasaan aneh dengan anjingnya, berbeda dengan Edgar Allan Poe atau yang lebih dikenal dengan nama Poe. Penulis, penyair, editor, sekaligus kritikus sastra asal negeri Paman Sam ini memiliki kebiasaan aneh dengan kucingnya yang diberi nama Catterina. Saat menulis, Poe selalu ditemani oleh Catterina yang setia “bertengger” di pundaknya. Baginya, dengan ada Catterina di sisinya maka beliau akan selalu merasa diawasi. Lucu juga ya hehe. Victor Hugo Penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan terkenal sebagai salah satu penyair terbesar di Prancis ternyata juga memiliki kebiasaan aneh saat menulis. Penulis “Les Miserables” ini selalu mengurung dirinya di dalam rumah agar tetap produktif. Tidak hanya itu saja, beliau bahkan rela menyimpan seluruh pakaiannya rapat-rapat dalam lemari agar dirinya dapat berpikir bahwa tidak akan keluar rumah jika tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dikenakan. Kebiasaan ini bisa kita tiru, loh karena keluar rumah hanya untuk bersenang-senang dapat membuang-buang waktu dan membuat karya kita tidak akan cepat selesai.

News

Menulis Puluhan Ribu Kata Hanya dalam Waktu Sekejap? Mana Mungkin!

Menulis memang terkenal dengan hal yang sulit terutama bagi penulis pemula. Jangankan untuk menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata seperti pada judul, menulis puluhan kata saja terasa sangat sulit. Menulis sering kali dianalogikan sebagai mencari tumpukan jarum di dalam jerami. Wah, sesulit itu ya? Tetapi, tahukah kalian bahwa kita bisa kok menulis puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap? Ya, kita bisa melakukannya hanya dalam hitungan 1 bulan saja. Nggak percaya? Memangnya bisa? Bisa banget! Nih, simak beberapa tips berikut agar kita dapat menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap. Bagilah sesi menulis menjadi beberapa waktu Hal ini penting untuk kita lakukan agar lebih fokus dalam mengerjakan naskah. Jika kita ingin menulis 20.000 kata berarti kita harus membagi sesi menulis kita menjadi 3-4 waktu agar tidak “pusing” saat menulis. Dalam satu waktu, kita bisa menghabiskannya dengan menulis sebanyak 5.000 kata. Memang, 5.000 kata tidak sedikit untuk kita tuliskan. Akan tetapi, dengan membagi sesi menulis maka akan memudahkan kita untuk menyelesaikan 5.000 kata tersebut. Merencanakan sesi menulis Setelah membagi sesi menulis ke dalam beberapa waktu, kita harus mengetahui dan merencanakan kapan akan mengeksekusi tulisannya. Kita tidak harus selalu dan selalu menulis hingga melupakan kehidupan serta aktivitas kita sehari-hari. Hal yang terpenting adalah kita harus menyempatkan menulis di sesi yang telah ditentukan sembari menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Tidak perlu menulis sesuai urutannya Bagi sebagian penulis, menulis tidak sesuai urutannya akan membuatnya bingung. Ada banyak penulis yang tidak senang jika dirinya harus menulis secara “lompat-lompat”. Baginya, menulis “lompat-lompat” akan memunculkan penyakit writer’s block dan berakibat pada tidak nyambungnya tulisan kita dengan bagian sebelumnya. Akan tetapi, sebagian penulis menganggap bahwa menulis tidak sesuai urutannya akan membuat dirinya lebih produkif. Bagi mereka, tulislah apa yang ingin kita tulis. Jangan berpaku pada urutan bagian yang sudah direncanakan. Nah, kalau kalian tim yang mana nih? Tim yang menulis harus urut sesuai bagiannya atau tim yang menulis “lompat-lompat”? Tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan disela dengan kegiatan lain Kebanyakan penulis pemula ketika menulis pasti disambi dengan kegiatan lainnya. Tak jarang, kita sebagai penulis pemula ini selalu menulis sambil menyunting/mengedit. Ini adalah kebiasaan buruk yang membuat naskah tidak cepat selesai. Kita harus terus menulis. Tuangkan semua ide-ide cemerlang yang ada dalam pikiran kita. Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk menulis sambil menyunting naskah yang sedang kita tuliskan. Hal ini biasanya akan memunculkan writer’s block dan kita akan mudah terdistraksi oleh naskah kita yang masih “berantakan”. Memang, naskah yang pertama kali kita tuliskan tidak sempurna. Semua penulis pun ketika menuliskan naskah untuk pertama kali pasti tidak akan mencapai kata sempurna. Tetapi jangan khawatir. Kita bisa menyuntingnya ketika semua isi yang akan kita tulis di dalam naskah tersebut terselesaikan.

News

Yuk Mengenal Macam-Macam Biografi

“Taukah Anda Biografi juga ada macamnya lo” Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan beberapa karya tulis legendaris seperti “Kamus Pramoedya Ananta Toer” sebuah rekam hidup dari Pramoedya Ananta Toer, “Kuasa Ramalan” riwayat hidup dari Pangeran Dipoenegoro atau “Nelson Mandela” kisah narasi-narasi hidup dari seorang Nelson Mandela . Ketiga buku itu merupakan sebuah mahakarya atas dedikasi atau sepak terjang seseorang yang berada di baliknya. Seseorang itu boleh saja telah tiada, tetapi dengan karya tulis tersebut ia akan terus terkenang sepanjang masa. Setiap manusia pasti memiliki cerita perjalanan hidup yang layak diabadikan. Karena sepandai dan setinggi apapun kedudukan seseorang, selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan keberadaanya akan terhapuskan oleh sejarah. Singkatnya menulis adalah bekerja untuk keabadian. Kegiatan merekam segala peristiwa dan kejadian yang kita alami dalam hidup kita melalui tulisan seperti itu bisa juga disebut dengan biografi. Biografi saat ini pun sangat beragam dan tidak terikat pada penulisan cerita hidup orang atau tokoh terkenal yang sangat berpengaruh, karena kini semua orang berhak menuliskan kisah hidupnya. Jika kita lihat, saat ini telah banyak buku biografi yang memuat tentang cerita hidup seseorang yang bukan merupakan tokoh terkenal atau sosok yang sangat berpengaruh. Tetapi lebih  berfokus pada pengenalan karakter maupun personal branding mengingat saat ini banyak orang yang membutuhkan hal tersebut. Dengan semakin beragamnya bentuk penulisan biografi dewasa ini, kita mungkin sedikit kebingungan menentukan mana biografi yang cocok untuk dijadikan referensi atau rujukan dan mana biografi yang cocok untuk dijadikan sebuah motivasi. Biasanya biografi yang banyak dijadikan referensi adalah biografi ilmiah, sedangkan biografi yang kerap kali dijadikan sebuah motivasi adalah biografi populer. Untuk mencegah kebingungan, kita bisa mengidentifikasi kedua jenis penulisan biografi tersebut melalui beberapa point berikut: Mengenali Objek Atau Tokoh Biografi dengan sudut pandang ilmiah biasanya menceritakan tokoh-tokoh terkenal yang sangat berpengaruh misalnya tokoh pahlawan nasional, tokoh pemimpin, tokoh sejarah dll. Sementara penulisan biografi populer lebih ke tokoh yang tidak terlalu mencolok namun sangat inspiratif, sebut saja Merry Riana dll. Gaya Bahasa Penulisan biografi ilmiah selalu menggunakan kata-kata baku dan tidak jarang bahasanya terkesan kaku. Selain itu kerap kali juga menggunakan diksi yang asing  atau bahasa-bahasa yang jarang kita dengar di kehidupan sehari-hari. Sementara biografi populer biasanya lebih disampaikan dengan bahasa yang santai dan persuasif serta menggunakan diksi yang mudah dicerna. Konten Karena biografi ilmiah kebanyakan menceritakan tentang tokoh-tokoh berpengaruh, maka konten di dalamnya tak jauh dari aktivisme, peran politik hingga ke pemikiran tokoh tersebut. Sedangkan biografi populer lebih banyak bercerita tentang kisah-kisah inspiratif seorang tokoh yang syarat akan motivasi. Sasaran Atau Target Buku Biografi ilmiah lebih menyasar ke kalangan akademisi karena untuk kebutuhan referensi, sedangkan biografi populer sangat cocok untuk semua kalangan dengan gaya bahasa yang ringan dan sangat komunikatif.

Tips

Ciri Khas dalam Penulisan Biografi

(sumber: detik.com) Penulisan biografi sering kali diidentikkan dengan penulisan karya sastra mengenai kisah hidup seseorang. Melalui hal tersebut, umumnya kita dapat mengetahui kisah hidup seseorang mulai dari awal kelahirannya hingga akhir hayatnya, apabila tokoh yang ada dalam buku tersebut sudah wafat.             Selain itu, masih banyak ciri khas lain yang sangat melekat pada penulisan buku biografi. Hal ini penting untuk diketahui agar kita tidak salah dalam membedakan buku biografi dengan buku-buku riwayat hidup lainnya. Penasaran? Langsung saja simak uraian berikut ini. Bersifat Non Fiksi                 Sudah bukan rahasia lagi apabila dalam penulisan biografi memiliki sifat non fiksi. Hal ini karena kisah-kisah yang ada di dalamnya berisikan tentang kejadian nyata sehingga tidak ada unsur imajinatif di dalamnya. Hanya saja terkadang ada beberapa penulis yang menambahkan unsur dramatisir agar cerita yang ada tampak lebih menarik. Disajikan dalam Bentuk Narasi             Pada umumnya, tulisan biografi disajikan dalam bentuk teks narasi. Alasannya karena di dalam naskah biografi memuat cerita ataupun peristiwa yang dialami seorang tokoh sehingga dipaparkan secara deskriptif. Oleh karena ini bentuk narasi akan mampu menjadikan buku biografi tersebut menjadi sebuah cerita yang enak dibaca. Bercerita Lengkap tentang Kehidupan Tokoh             Ketika seseorang menulis buku biografi artinya ia mau menceritakan perjalanan hidupnya mulai dari kecil hingga mencapai titik tertentu. Perjalanannya dikemas dalam bentuk cerita yang diselipi nasihat-nasihat berharga sehingga para pembaca bisa mengambil pelajaran di dalamnya. Memiliki Struktur yang Jelas          Tulisan biografi harus memuat struktur yang jelas. Mulai dari kerangka waktu, setting tempat, suasana, semuanya harus digambarkan secara mendetail. Meskipun novel juga sering memuat alur dan suasana yang mendetail, hal ini sedikit berbeda karena naskah biografi memiliki susunan yang urut secara kronologis. Nah, itulah beberapa ciri khas dalam penulisan biografi. Apabila anda berminat untuk mulai menulis biografi, hendaknya dapat smembuat penulisan buku biografi yang benar dengan memasukkan unsur-unsur ciri khas yang telah diparparkan di atas.  

Tips

Langkah Awal Menulis Biografi yang Menarik

    (sumber : Bibliotika.com) Biografi adalah sebuah perjalanan hidup seseorang yang dikemas dalam bentuk buku dan umumnya dituliskan oleh orang lain. Keberadaannya menjadi salah satu sarana warisan peradaban yang begitu menarik untuk dilimpahkan kepada anak cucu. Hal ini karena dengan menulis biografi artinya tokoh tersebut telah mengabadikan setiap momen dalam perjalanan hidupnya.             Banyak yang mengira bahwa biografi hanya pantas ditulis oleh orang-orang yang telah memiliki pencapaian-pencapaian besar dalam hidupnya. Padahal sebenarnya siapa pun berhak untuk mengabadikan kisah kehidupannya agar kelak diketahui oleh anak cucunya ketika sudah tiada. Selain itu, dengan menulis biografi seseorang dapat membagikan value atau nilai-nilai kehidupan yang ia miliki untuk disebarkan kepada orang lain.            Mulailah dari langkah awal. Langkah awal dalam menyusun teks biografi adalah menentukan tokoh yang akan ditulis dalam biografi. Langkah awal ini sangat penting dilakukan sebelum Anda mulai menulis naskah. Tokoh yang diambil tentunya orang-orang dengan kontribusi besar bagi lingkungannya sehingga ada banyak cerita yang bisa ditorehkan pada naskahnya.          Oleh sebab itu, hal pertama yang harus mempertimbangkan adalah eksistensi dan pengaruh tokoh tersebut sehingga langkah-langkah membuat biografi selanjutnya akan mudah dilakukan. Semakin eksis dan berpengaruh tokoh yang akan Anda tulis, maka akan semakin mudah Anda menuliskan serangkaian perjalanan hidupnya. Selain itu, juga akan sangat mudah bagi Anda untuk mendapatkan royalti. Sebab masyarakat telah mengenal tokoh yang Anda tulis sehingga secara tidak langsung telah menciptakan target pasar.         Setelah menyelesaikan langkah awal, selanjutnya perlu melakukan riset secara mendalam. Tentu sebagai penulis yang profesional, Anda harus menggali kehidupan tokoh secara mendetail, baik itu dari tokohnya langsung atau bisa jadi mendapat informasi dari orang-orang terdekat tokoh. Lakukan wawancara secara secara keseluruhan dengan membuat daftar pertanyaan yang nantinya ingin diangkat dalam penulisan naskahnya.          Setelah semua data terkumpul, akan mudah membuat outline atau susunan bukunya. Sembari menulis naskah yang apabila ada bahan belum lengkap bisa ditanyakan ketika melangsungkan wawancara kembali. Jadi tunggu apalagi, tidak perlu mempersulit diri. Mulailah menulis biografi dengan mengikuti langkah-langkah membuat biografi seperti yang sudah kita pelajari. Lalu tunjukkan karyamu pada dunia!

Tips

Bagaimana Agar Karya Mudah Diterima Pembaca?

(sumber : JawaPos.com) Bakat yang dimiliki seseorang tentu berbeda-beda. Ada yang memiliki bakat melukis, menyanyi, memasak, atau bahkan menulis. Berbicara mengenai bakat menulis, Anda sebenarnya tidak perlu berangkat dari bakat. Sebab syarat menjadi penulis buku hanya membutuhkan latihan dan kesungguhan. Segala sesuatu pastinya memiliki tahapan yang harus ditempuh untuk memperoleh hasil maksimal, begitu juga dalam menulis buku. Terdapat beberapa tahapan yang harus ditempuh agar menghasilkan karya hebat. Untuk lebih jelasnya, mari sama-sama belajar dalam beberapa langkah berikut. Membuat Outline             Outline atau susunan buku merupakan bagian penting yang harus dipersiapkan sebelum memulai menulis. Susunan ini berisikan bagian-bagian yang nantinya akan menjadi kerangka tulisan. Penulis bisa memploting bagian tiap bagian berdasarkan materi yang ingin diangkat dengan mengelompokkannya menjadi suatu kategori tertentu, atau yang disebut bab. Menulis Hal yang Dikuasai Cara membuat buku agar mudah diterima pembaca adalah dengan menuliskan hal-hal yang dikuasai. Bayangkan ketika Anda adalah orang dengan keahlian di bidang kesehatan tetapi menulis sesuatu tentang masalah keuangan. Hal ini tentu kurang relevan karena Anda tidak akan bisa membahas bidang tersebut secara mendalam. Riset Bahan Setelah mengetahui topik yang ingin diangkat dan Anda memang menguasainya, selanjutnya pastikan untuk melakukan riset bahan secara mendalam. Riset bahan ini akan sangat membantu memperluas materi yang Anda bahas, apalagi pembaca hari ini menyukai suatu pembahasan yang singkat tetapi dikupas secara mendalam. Gaya Bahasa             Gaya penulisan sebuah buku dapat mempengaruhi minat pembaca untuk membeli buku tersebut. Cara menentukan gaya bahasa bisa dilihat dari target pembacanya. Misalnya target pembaca yang disasar adalah kalangan milenial, maka gaya bahasa yang digunakan harus ramah dengan dunia mereka. Sebenarnya di sinilah kunci menarik tidaknya sebuah tulisan karena ketika gaya bahasa yang digunakan salah, artinya kita tidak bisa menyasar target pembaca kita. Nah itulah beberapa cara membuat buku yang perlu Anda perhatikan sebelum menerbitkan sebuah karya. Perlu diingat bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa diselesaikan.

Tips

Bagaimana Agar Karya Mudah Diterima Pembaca?

(sumber : JawaPos.com) Bakat yang dimiliki seseorang tentu berbeda-beda. Ada yang memiliki bakat melukis, menyanyi, memasak, atau bahkan menulis. Berbicara mengenai bakat menulis, Anda sebenarnya tidak perlu berangkat dari bakat. Sebab syarat menjadi penulis buku hanya membutuhkan latihan dan kesungguhan. Segala sesuatu pastinya memiliki tahapan yang harus ditempuh untuk memperoleh hasil maksimal, begitu juga dalam menulis buku. Terdapat beberapa tahapan yang harus ditempuh agar menghasilkan karya hebat. Untuk lebih jelasnya, mari sama-sama belajar dalam beberapa langkah berikut. Membuat Outline             Outline atau susunan buku merupakan bagian penting yang harus dipersiapkan sebelum memulai menulis. Susunan ini berisikan bagian-bagian yang nantinya akan menjadi kerangka tulisan. Penulis bisa memploting bagian tiap bagian berdasarkan materi yang ingin diangkat dengan mengelompokkannya menjadi suatu kategori tertentu, atau yang disebut bab. Menulis Hal yang Dikuasai Cara membuat buku agar mudah diterima pembaca adalah dengan menuliskan hal-hal yang dikuasai. Bayangkan ketika Anda adalah orang dengan keahlian di bidang kesehatan tetapi menulis sesuatu tentang masalah keuangan. Hal ini tentu kurang relevan karena Anda tidak akan bisa membahas bidang tersebut secara mendalam. Riset Bahan Setelah mengetahui topik yang ingin diangkat dan Anda memang menguasainya, selanjutnya pastikan untuk melakukan riset bahan secara mendalam. Riset bahan ini akan sangat membantu memperluas materi yang Anda bahas, apalagi pembaca hari ini menyukai suatu pembahasan yang singkat tetapi dikupas secara mendalam. Gaya Bahasa             Gaya penulisan sebuah buku dapat mempengaruhi minat pembaca untuk membeli buku tersebut. Cara menentukan gaya bahasa bisa dilihat dari target pembacanya. Misalnya target pembaca yang disasar adalah kalangan milenial, maka gaya bahasa yang digunakan harus ramah dengan dunia mereka. Sebenarnya di sinilah kunci menarik tidaknya sebuah tulisan karena ketika gaya bahasa yang digunakan salah, artinya kita tidak bisa menyasar target pembaca kita. Nah itulah beberapa cara membuat buku yang perlu Anda perhatikan sebelum menerbitkan sebuah karya. Perlu diingat bahwa karya yang baik adalah karya yang bisa diselesaikan.

News

Punya Kebiasaan Aneh Saat Menulis? Wajar Nggak Sih?

Ketika sedang menulis sebuah karya, tanpa disadari kita sering memiliki kebiasaan yang mungkin bagi orang lain terkesan aneh bahkan cringe. Kebiasaan ini sering dianggap aneh karena tidak semua orang melakukannya. Bahkan bisa jadi kebiasaan itu hanya kita saja yang melakukannya. Nah, kalau sudah seperti ini sering timbul pertanyaan “Wajar nggak sih aku punya kebiasaan aneh setiap kali menulis?”. Jawabannya adalah wajar. Kok bisa? Iya, sebab setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya termasuk menulis. Kita tidak perlu sedih karena diri kita dianggap “aneh” karena kebiasaan yang kita miliki. Banyak penulis bahkan penulis yang namanya sudah melambung juga memiliki kebiasaan yang aneh kok. Siapa saja sih mereka dan apa kebiasaan aneh yang mereka lakukan? Friedrich Schiller Johann Christoph Friedrich von Schiller, penyair dan penulis naskah drama asal Jerman yang lahir pada 10 November 1759 ini menghabiskan waktunya untuk bekerja di malam hari. Jika harus bekerja di pagi atau siang hari, beliau selalu menutup ruangannya dengan tirai berwarna merah untuk menahan sinar matahari agar tidak masuk dan menerangi ruang kerjanya. Ketika beliau merasa bosan maka beliau akan membenamkan kakinya ke dalam air dingin agar dirinya tetap terjaga. Selain kebiasaan tersebut, Schiller memiliki kebiasaan aneh lainnya dan cukup mencengangkan. Beliau senang menyimpan apel busuk di dalam lacinya. Menurut istrinya, beliau tidak akan bisa bekerja jika tidak mencium aroma busuk. Wah, aneh juga ya? Kebanyakan orang akan terganggu jika mencium aroma busuk, tapi beliau justru terlihat begitu mencintainya. Agatha Christie Dame Agatha Mary Clarissa Christie atau kita lebih mengenalnya dengan Agatha Christie ini memiliki kebiasaan aneh juga dalam menulis. Penulis fiksi kriminal asal Inggris ini sempat memiliki permintaan khusus untuk kamar mandinya. Kok kamar mandi sih? Iya. Baginya, bak mandi adalah ruang kerja utamanya. Beliau bisa menghabiskan waktu untuk menulis dan menyusun plot yang rumit sembari berendam di air hangat dan menikmati apel. Keren ya? Mungkin kalau kita berendam di air hangat hingga terasa rileks seluruh tubuh akan tertidur hihihi. Collete Sidonie-Gabrielle Collete yang dilahirkan pada tahun 1873 ini memiliki kebiasaan aneh saat menulis yang membuat suaminya geleng-geleng kepala. Pasalnya, novelis “gila” asal Prancis ini memiliki ritual khusus. Beliau harus menemukan kutu di anjing peliharaannya sebelum memulai untuk menulis. Edgar Allan Poe Kalau Collete memiliki kebiasaan aneh dengan anjingnya, berbeda dengan Edgar Allan Poe atau yang lebih dikenal dengan nama Poe. Penulis, penyair, editor, sekaligus kritikus sastra asal negeri Paman Sam ini memiliki kebiasaan aneh dengan kucingnya yang diberi nama Catterina. Saat menulis, Poe selalu ditemani oleh Catterina yang setia “bertengger” di pundaknya. Baginya, dengan ada Catterina di sisinya maka beliau akan selalu merasa diawasi. Lucu juga ya hehe. Victor Hugo Penulis aliran romantisme pada abad ke-19 dan terkenal sebagai salah satu penyair terbesar di Prancis ternyata juga memiliki kebiasaan aneh saat menulis. Penulis “Les Miserables” ini selalu mengurung dirinya di dalam rumah agar tetap produktif. Tidak hanya itu saja, beliau bahkan rela menyimpan seluruh pakaiannya rapat-rapat dalam lemari agar dirinya dapat berpikir bahwa tidak akan keluar rumah jika tidak memiliki pakaian yang pantas untuk dikenakan. Kebiasaan ini bisa kita tiru, loh karena keluar rumah hanya untuk bersenang-senang dapat membuang-buang waktu dan membuat karya kita tidak akan cepat selesai.

News

Menulis Puluhan Ribu Kata Hanya dalam Waktu Sekejap? Mana Mungkin!

Menulis memang terkenal dengan hal yang sulit terutama bagi penulis pemula. Jangankan untuk menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata seperti pada judul, menulis puluhan kata saja terasa sangat sulit. Menulis sering kali dianalogikan sebagai mencari tumpukan jarum di dalam jerami. Wah, sesulit itu ya? Tetapi, tahukah kalian bahwa kita bisa kok menulis puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap? Ya, kita bisa melakukannya hanya dalam hitungan 1 bulan saja. Nggak percaya? Memangnya bisa? Bisa banget! Nih, simak beberapa tips berikut agar kita dapat menulis ribuan bahkan puluhan ribu kata hanya dalam waktu sekejap. Bagilah sesi menulis menjadi beberapa waktu Hal ini penting untuk kita lakukan agar lebih fokus dalam mengerjakan naskah. Jika kita ingin menulis 20.000 kata berarti kita harus membagi sesi menulis kita menjadi 3-4 waktu agar tidak “pusing” saat menulis. Dalam satu waktu, kita bisa menghabiskannya dengan menulis sebanyak 5.000 kata. Memang, 5.000 kata tidak sedikit untuk kita tuliskan. Akan tetapi, dengan membagi sesi menulis maka akan memudahkan kita untuk menyelesaikan 5.000 kata tersebut. Merencanakan sesi menulis Setelah membagi sesi menulis ke dalam beberapa waktu, kita harus mengetahui dan merencanakan kapan akan mengeksekusi tulisannya. Kita tidak harus selalu dan selalu menulis hingga melupakan kehidupan serta aktivitas kita sehari-hari. Hal yang terpenting adalah kita harus menyempatkan menulis di sesi yang telah ditentukan sembari menjalankan aktivitas kita sehari-hari. Tidak perlu menulis sesuai urutannya Bagi sebagian penulis, menulis tidak sesuai urutannya akan membuatnya bingung. Ada banyak penulis yang tidak senang jika dirinya harus menulis secara “lompat-lompat”. Baginya, menulis “lompat-lompat” akan memunculkan penyakit writer’s block dan berakibat pada tidak nyambungnya tulisan kita dengan bagian sebelumnya. Akan tetapi, sebagian penulis menganggap bahwa menulis tidak sesuai urutannya akan membuat dirinya lebih produkif. Bagi mereka, tulislah apa yang ingin kita tulis. Jangan berpaku pada urutan bagian yang sudah direncanakan. Nah, kalau kalian tim yang mana nih? Tim yang menulis harus urut sesuai bagiannya atau tim yang menulis “lompat-lompat”? Tulis aja apa yang ada di pikiran, jangan disela dengan kegiatan lain Kebanyakan penulis pemula ketika menulis pasti disambi dengan kegiatan lainnya. Tak jarang, kita sebagai penulis pemula ini selalu menulis sambil menyunting/mengedit. Ini adalah kebiasaan buruk yang membuat naskah tidak cepat selesai. Kita harus terus menulis. Tuangkan semua ide-ide cemerlang yang ada dalam pikiran kita. Jangan pernah sekali-kali mencoba untuk menulis sambil menyunting naskah yang sedang kita tuliskan. Hal ini biasanya akan memunculkan writer’s block dan kita akan mudah terdistraksi oleh naskah kita yang masih “berantakan”. Memang, naskah yang pertama kali kita tuliskan tidak sempurna. Semua penulis pun ketika menuliskan naskah untuk pertama kali pasti tidak akan mencapai kata sempurna. Tetapi jangan khawatir. Kita bisa menyuntingnya ketika semua isi yang akan kita tulis di dalam naskah tersebut terselesaikan.

News

Yuk Mengenal Macam-Macam Biografi

“Taukah Anda Biografi juga ada macamnya lo” Kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan beberapa karya tulis legendaris seperti “Kamus Pramoedya Ananta Toer” sebuah rekam hidup dari Pramoedya Ananta Toer, “Kuasa Ramalan” riwayat hidup dari Pangeran Dipoenegoro atau “Nelson Mandela” kisah narasi-narasi hidup dari seorang Nelson Mandela . Ketiga buku itu merupakan sebuah mahakarya atas dedikasi atau sepak terjang seseorang yang berada di baliknya. Seseorang itu boleh saja telah tiada, tetapi dengan karya tulis tersebut ia akan terus terkenang sepanjang masa. Setiap manusia pasti memiliki cerita perjalanan hidup yang layak diabadikan. Karena sepandai dan setinggi apapun kedudukan seseorang, selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan keberadaanya akan terhapuskan oleh sejarah. Singkatnya menulis adalah bekerja untuk keabadian. Kegiatan merekam segala peristiwa dan kejadian yang kita alami dalam hidup kita melalui tulisan seperti itu bisa juga disebut dengan biografi. Biografi saat ini pun sangat beragam dan tidak terikat pada penulisan cerita hidup orang atau tokoh terkenal yang sangat berpengaruh, karena kini semua orang berhak menuliskan kisah hidupnya. Jika kita lihat, saat ini telah banyak buku biografi yang memuat tentang cerita hidup seseorang yang bukan merupakan tokoh terkenal atau sosok yang sangat berpengaruh. Tetapi lebih  berfokus pada pengenalan karakter maupun personal branding mengingat saat ini banyak orang yang membutuhkan hal tersebut. Dengan semakin beragamnya bentuk penulisan biografi dewasa ini, kita mungkin sedikit kebingungan menentukan mana biografi yang cocok untuk dijadikan referensi atau rujukan dan mana biografi yang cocok untuk dijadikan sebuah motivasi. Biasanya biografi yang banyak dijadikan referensi adalah biografi ilmiah, sedangkan biografi yang kerap kali dijadikan sebuah motivasi adalah biografi populer. Untuk mencegah kebingungan, kita bisa mengidentifikasi kedua jenis penulisan biografi tersebut melalui beberapa point berikut: Mengenali Objek Atau Tokoh Biografi dengan sudut pandang ilmiah biasanya menceritakan tokoh-tokoh terkenal yang sangat berpengaruh misalnya tokoh pahlawan nasional, tokoh pemimpin, tokoh sejarah dll. Sementara penulisan biografi populer lebih ke tokoh yang tidak terlalu mencolok namun sangat inspiratif, sebut saja Merry Riana dll. Gaya Bahasa Penulisan biografi ilmiah selalu menggunakan kata-kata baku dan tidak jarang bahasanya terkesan kaku. Selain itu kerap kali juga menggunakan diksi yang asing  atau bahasa-bahasa yang jarang kita dengar di kehidupan sehari-hari. Sementara biografi populer biasanya lebih disampaikan dengan bahasa yang santai dan persuasif serta menggunakan diksi yang mudah dicerna. Konten Karena biografi ilmiah kebanyakan menceritakan tentang tokoh-tokoh berpengaruh, maka konten di dalamnya tak jauh dari aktivisme, peran politik hingga ke pemikiran tokoh tersebut. Sedangkan biografi populer lebih banyak bercerita tentang kisah-kisah inspiratif seorang tokoh yang syarat akan motivasi. Sasaran Atau Target Buku Biografi ilmiah lebih menyasar ke kalangan akademisi karena untuk kebutuhan referensi, sedangkan biografi populer sangat cocok untuk semua kalangan dengan gaya bahasa yang ringan dan sangat komunikatif.

Scroll to Top